Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan
Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di
sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke
Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti
sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja
berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan
Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia
amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife!
(Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife).
Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif.
1. Tiket
Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival,
https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih jauh,
bisa kunjungi situs https://www.prambananjazz.com/. Tiket sementara harus
dicetak sendiri. Biar nanti lebih mudah saat ngelakuin penukaran tiket.
Prambanan Jazz Festival 2017 berlangsung selama 3 hari, tangal 18-20
Agustus 2017, Jumat hingga Minggu. Tiket acara bisa dibeli per hari dengan
harga Rp.250.000 atau tiket terusan selama 3 Hari dengan harga Rp.600.000. Di
acara (Festival Show) dan tiket ini tidak ada yang namanya “kelas”. Semua
penonton menjadi satu. Kalau ingin dapat posisi di depan panggung ya harus
datang jauh lebih awal.
Dikarenakan dari awal kita niat nonton Om Shane yang ada di Special Show,
kita harus beli tiket lagi. Nah, di sini baru tiket dijual berdasarkan “kelas”,
tempat duduknya terpisah. Harga tiket mulai dari Rp.250.000 hingga Rp.1.300.000
(kalau Mei enggak salah ingat). Jadi, kalau kalian ingin berada di bibir
panggung, kalian harus siap dan rela merogoh kocek lebih dalam.
Intinya, kalau kalian ingin nonton penampil di Special Show, kalian harus
beli/punya tiket Festival Show juga.
Oia, harga tiket RP.250.000 belum termasuk tiket masuk kawasan Candi Prambanan. Kalian harus membeli tiket masuk lagi seharga Rp.20.000, setengah harga dari harga tiket biasanya. Tapi, saat kalian sudah punya tanda masuk, kalian bebas keluar-masuk kawasan Candi.
Penukaran tiket dilakukan di loket tiket masuk kawasan Candi Prambanan. Bukan di loket Candi-nya, sih. Loketnya sejajar dengan loket Candi. Ada hal yang buat Mei agak kesal. Dalam rundown acara, penukaran tiket sudah bisa dilakukan sejak pukul 10.00 WIB. Tapi kenyataannya, Mei datang pukul 11.00 WIB, belum bisa melakukan penukaran tiket. Alasannya, masih offline. Ok, Mei tunggu lagi. Sekitar pukul 12.00 WIB, Mei coba buat ngelakuin penukaran tiket dan berhasil. Masuklah Mei, jalan terus ke lokasi panggung. Ternyata harus melewati petugas tiket lagi. Nah, sayangnya, saat itu Jumat, para petugas masih dan harus menjalankan Solat Jumat. Nunggu lagi, deh. Ok, tunggu sambil jalan-jalan ke Candi, sampai perut keroncongan, menahan lapar.
Ada masalah di sini, panitia belum/tidak mempunyai rencana jika tiket tidak
terbaca scanner. Akhirnya, para penonton yang tiketnya tidak terbaca, dilempar
sana-sini, termasuk Mei. Nunggu lama, lapar, diperlakuin kayak gini, kok jadi
kesel ya. Mei sempat lihat juga sih, seorang programmer sedang ngotak-ngatik
programnya. Sekitar sejam kemudian, panitia baru mempersilahkan para penonton
masuk dengan catatan ajaib (tanda tangan) dari ketua panitia acara.
![]() |
|
Tiket Festival Show dan Special Show hari
ke-1. Tangan Mei terlihat besar ya. -_-
|
2. Lokasi dan panggung
Lokasi acara Prambanan Jazz Festival berada di dalam kawasan Candi
Prambanan. Kebayang kan gimana serunya nonton konser dengan latar belakang
Candi yang megah? Pasti jadi pengalaman yang enggak bisa dilupain. (Ini di luar
kontroversi tentang beberapa komunitas yang meminta pengadaan konser di sekitar
kawasan Candi untuk diberhentikan ya).
Di dalam lokasi ada panggung Festival Show, panggung Special Show, area
kuliner, toilet, dan mushola. Panggung Special Show berada di dalam area
panggung Festival Show. Mei gambarkan seperti, ((s) + f + k + t + m). Ada tanda
kurung pada huruf S, Special, itu mengharuskan kalian beli tiket lagi seperti
yang sudah Mei jelaskan di atas.
3. Penginapan
Karena acaranya bakal selesai malam, kita harus cari penginapan di sekitar
Candi. Terus gimana caranya bisa nyari penginapan di sekitar Candi? Gini. Mei
pakai cara pesan penginapan online sambil buka Google Maps. Alamat penginapan
pasti ada, kan? Nah, kita lihat di dalam Google Maps biar bisa memperkirakan
seberapa jauh jarak antara penginapan dengan kawasan candi, harus menggunakan
alat transportasi atau enggak. Untungnya, Mei dapat penginapan yang dekat
banget dengan kawasan candi. Jadi, tinggal jalan sekitar 5 menit, sampai di
pintu masuk, deh.
4. Kostum
Ingat ya, nonton konsernya itu outdoor dari siang hingga malam. Pastikan kalian pakai pakaian yang nyaman, enggak gampang terlihat kotor, dan bisa nahan matahari saat siang dan tahan aangin saat malam. Kalau dipikir-pikir, sih pakai jaket dan topi emang yang terbaik.
Sebagai penanda, sesuatu yang mencolok, Mei pakai bando LED telinga kucing.
Sedangkan Hesti Sensei pakai LED mahkota bunga. Bukannya untuk menjadi pusat
perhatian orang-orang, melainkan agar salah satu diantara kita hilang, mudah
untuk ketemunya. Jujur aja, ini juga salah satu ide spontanitas Mei.
![]() |
|
Jaket denim
emang penyelamat di segala suasana.
|
5. Konser
Acara dimulai ngaret. Telat dua jam dari yang ada di rundown. Ini juga yang
terjadi di hari kedua, saat ada penyanyi yang “diusir” saat menggung itu, tuh.
Ini juga yang bikin energi Mei habis. Bayangin aja, saat Spescial Show, ada dua
penampil, Shakatak dan Shane. Saat Shakatak, penampil pertama, unjuk gigi, kita
(Mei dan Hesti Sensei) tidur. Iya. Tidur. Pulas. Parah. Karena kehabisan
energi. Tapi, saat Shakatak selesai tampil, mata langsung terbuka, langsung
sadar, saatnya Om Shane tampil!!!
Oia, jangan lupa untuk menghapal lagu-lagunya. Jangan seperti Mei, saat
Festival Show, penampil itu penyanyi tahun 90-an, yang saat itu Mei masih unyu
(kecil), jadi enggak ngerti lagu-lagunya. Jadi ngerasa canggung, saat
orang-orang di sekeliling Mei teriak nyanyi bareng si penyanyi. Tapi, saati
penampilan Om Shane, Mei hapal. Karena beberapa minggu sebelumnya, Mei
ngelakuin riset judul lagu apa aja yang pernah dinyanyiin Om Shane saat
manggung di Indonesia. Jangan lupa dihapal. Hasil riset Mei ternyata bener.
Sekitar 80% dari hasil riset Mei, benar dinyanyikan, loh. Hohohoho.
![]() |
|
Salah satu ketuntungan pakai bando LED
telinga kucing, bisa terlihat jelas. Coba tebak Mei yang mana? Hihihihi
|
6. Hal lain
- Dilarang membawa makan/minum dari luar area acara. Di dalam ada area kuliner. Tapi, Mei bawa tumbler dan cokelat sebatang, bisa lolos.
- Bawa peralatan sholat termasuk sejadahnya. Panitia enggak/belum menyiapkan sejadah di musolah (saat itu).
- Tiket acara berbentuk kertas yang ditaruh di pergelangan tangan, jadi seperti gelang. Gelang kertas. Jadi, saat wudhu harus dilepas. Robek aja. Panitia bersedia menggantikan dengan tiket yang baru.
Kira-kira itu semua yang sudah Mei alami dan amati saat ikut acara
Prambanan Jazz Festival 2017. Intinya, Prambanan Jazz Festival itu seru!!
Kalau dipikir-pikir, tulisan Mei di atas seperti jawaban esai dari
pertanyaan, “Sebutkan dan jelaskan apa saja yang kalian alami dan amati saat
mengikuti acara Prambanan Jazz Festival 2017!”. Kerjaan tiga bulan sekali,
terbawa. -_-
Oia, perlu Mei ingatkan, ya. Mei hanya ingin berbagi pengalaman bukan
mencari eksistensi. Berbagi pengalaman agar kalian yang ingin ikut acara itu,
mempunyai gambaran. Dan ini (sekali lagi) berdasarkan apa yang Mei alami dan
amati. Bersifat subjektif. Mei juga bisa salah.
Terima kasih.
Salam muuaacccchhhh



Komentar