Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Kebiasaan mencocokan jawaban setelah ujian berlangsung

Pertengahan Bulan Desember adalah momen sibuk bagi orang-orang yang masih punya status pelajar. Gimana nggak? Kan saat itu saat ujian semester 1 :D. Ya, walaupun banyak siswa/siswi yang bakal anggap enteng momen ini, "ah, gampang. Nanti nyontek aja", biasaanya mereka berusaha menenangkan dirinya dengan pernyataan itu. Sebenernya sih nggak mau mikirin tentang ujian, tapi kepikiran :D. Hayo, ngaku yang sama ngerasain kayak yang ane rasain :D. Di sini ane nggak bakal ngebahas tentang cara jitu nyontek yang baik dan benar sehingga nggak ketauan oleh pengawas. Terserah mau percaya atau nggak, ane nggak berpengalaman buat nyontek, makanya ane nggak mau ngasih tips dan trik itu :D. Nggak pernah nyontek? Terus selama ini kalo ikut ujian gimana? Hehehehehe. Kebetulan ane punya kemampuan yang sedikiiittttt lebih di bidang mengarang dan asal tebak :D. Jadi, ya nilai ane lumayan. Lumayan lah, nggak bikin ortu ane ngomel-ngomel karena nilai :D. Ok, kembali ke tema. Ane bakal bahas...

Galau? Normal Kok

"Mei lu pernah galau, kan? Tapi kok gua nggak pernah liat lu galau ya?" Pertanyaan itu tiba-tiba dilontarkan oleh salah satu teman ane yang cewe, terkenal dengan keidealisannya, blak-blakannya, dan lady rocker. (Ayo, siapa yang mau kenalan sama dia? Ambil formulir di ane ya, sekalian uang pendaftarannya :3. Loh, jadi "ngobral" -_- ) "Nggak perlu ditanya lagi, itu udah pasti jawabannya 'pernah'. Ane juga manusia biasa, wanita biasa," rasanya mau ane jawab dengan jawaban seperti itu. Tapi ternyata yang keluar dari mulut ane itu berbeda. "Pasti pernah, dong," kata ane sambil senyum merekah di bibir. "Emangnya kenapa?" sambung ane. "Gua nggak pernah liat lu galau aja, kayaknya enak-enak aja hidupnya, nggak galau padahal nggak punya cowo." "Hahahahahaha. Mei pinter nyembunyiin perasaan galau. Cuma orang-orang tertentu aja yang tau." "Oia, gua inget lu kan pernah update status gini 'Aku suka k...

Giliran mu sudah. Giliranku???

Membuka kembali album lama bersama ibu. Ah, ini adalah hal yang jarang sekali dilakukan. Entah kapan terakhir kali kami melakukan ini, sebelum dua hari yang lalu yang pasti. "Nih, kosong nih. Isi foto apa ya?" tanya Mama "Apaan ya?" "Kalau Mama nggak salah, di laci kamar kamu ada foto pas kamu masih kecil, deh." "Ah, iya. Bentar, Lina ambil dulu." Aku pun masuk ke kamar. Membongkar-bongkar laci untuk mengambil sebuah map hijau yang berisi foto-foto masa kecilku. Ku buka laci pertama, ku keluarkan semua isinya, hasilnya nihil. Aku tidak menemukan benda yang aku cari. Ku buka laci kedua, ku keluarkan semua isinya, "asyik! Ketemu!" ujarku dalam hati. "Nih, Ma fotonya," ucapku sambil menyerahkan map hijau tersebut. Mama pun membuka map tersebut. Ah, di sana ada foto saat aku menjadi "pagar ayu" di acara pernikahan salah seorang saudaraku. Jadi inget orang-orang selalu memuji foto itu dengan pujian, ...

Korban Iklan

"Om, om. Truck aja gandengan, masa om nggak?" Sebuah kalimat sindiran untuk para jomblo yang terdapat dalam iklan sebuah minuman. Lupa atau belom pernah nonton iklannya? Nih, iklannya. Silahkan di tonton. Pertama kali ane nonton iklan ini, ane langsung inget panggilan "om" untuk ane. Om?? nggak salah?? Nggak salah kok. Ane emang pernah dipanggil "om" dan panggilan sapaan untuk laki-laki -_-. Saat ane ngendarain sepeda motor dengan perlengkapan super lengkap. Mulai dari masker hitam, sarung tangan hitam, jaket jins hitam, rompi "tukang ojek" hitam, dan sepatu sneakers. "Sabar dulu, dong om," kata seorang polisi cepek ke ane "Om-om, berenti dulu, om," kata seorang bapak yang jalannya mau ane potong. "Ban yang mana, bang?" kata seorang pengisi angin ban motor "Nggak mampir dulu, mas?" kata mertua temen ane Ya Tuhan -_- Oia, kembali ke kisah iklan sindiran tadi. Saat iklan itu...

Antara Indonesia, Australia, daaaannnn Sapi???

Akhir-akhir ini hubungan Indonesia dengan Australia semakin memanas. Entah, kapan akan dingin. Mungkin harus nunggu hujan es batu dulu biar jadi dingin. Hmm... Semua kalangan tahu akan situasi ini (Indonesia vs Australia). Dari cewe sampe cowo, dari tua sampe muda, dari kalangan atas sampe kalangan bawah, dari hacker sampe checkher (baca: ceker). Termasuk juga salah satu anak yang ane bantu belajarnya (anak cewe kelas 7). "Kakak, katanya Indonesia sama Australia lagi berantem, ya?" tanya Atira saat ane lagi ngajar adeknya, Anugrah. "Iya. Kamu tau juga." jawab ane. "Tau, dong. Kan guru aku cerita. Katanya kan Indonesia punya sapi di Australia. Terus, sapinya di kembaliin ke Indonesia. Eh, sapinya jadi pada mandul. Katanya gara-gara waktu di Australia sapinya dikasih pil obat gitu,"  Mata ane yang cuma segaris pun langsung melotot. Pipi jadi gembung, nahan ketawa. Tapi akhirnya, ane nggak bisa nahan ketawa. "Wkwkwkwkwkwkwkwk. Atira dibohongi...

My Graduation Day

Sabtu, 23 November 2013. Pertama kali ane lihat ayah ane menangis bahagia. Memeluk ane dengan pelukan amaaattttt erat. Terasa juga rasa haru, kagum, bangga, dan puas di diri ane. Ah, mungkin ini yang dirasakan ayah dan menular ke ane. "Bapak sih, tadi sempet nangis. Mama kan jadi ikutan nangis tadi," ujar Mama "Ya nggak apa-apa, dong. Itu namanya menangis bahagia," ujar Ayah, "Kamu tau, Lin? Hari ini itu hari yg paling bikin bapak bahagia. Bisa ngeliat kamu pake baju toga. Ya, walaupun bapak berpendidikan rendah, tapi bapak bisa nyekolahin anak bapak sampe punya gelar." Ane cuma bisa diem. Diam di luar, berpura-pura cuek dan tidak peduli. Padahal di dalem hati ane nangis sambil teriak, "Aaaarrrrrrgggghhhhhhhh!!!! Ane mau lanjutin kuliah lagi!!! Biar bisa bikin ayah ane nangis bahagia lagi karena ane!!!"

Terima Kasih

Putus asa. Ya, aku mulai putus asa. Harapanku mulai padam. Saat pagi hari tanggal 25 Mei, harapanku sirna. “dia sudah melupakannya. Ya, maklum saja dia sudah semakin tua,” batinku berkata hanya untuk menghiburku. Tapi, siang itu, saat aku sudah melupakan keputus asaanku, dia menghubungiku. Aku lihat layar ponselku dan tertera nama dia, Bapak. “jangan-jangan ibu udah bilang kalau aku lagi enggak di rumah,” ujarku dalam hati. Untuk menjawab pertanyaanku, aku segera mengangkat panggilan dia. Aku sungguh tidak menyangka, dia akan mengingatnya. Mengingat hari saat aku dilahirkan. “Bapak cuma mau ngucapin selamat ulang tahun,” katanya lirih, mataku pun langsung berkaca-kaca. “Semoga menjadi tambah dewasa,” “Jaga mama sama adek kamu baik-baik, cuma kamu yang bisa bapak andelin,” air mataku menetes mendengar kata-katanya. “Kamu kan dari lahir udah bapak sering tinggal, jadi kamu harus kuat. Bapak juga sebenernya enggak mau ninggalin kamu, mama, sama adek kamu tapi mau...