Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Cari Emak yang Lain Aja

Suatu hari saat siang, seperti biasa, anak-anak TKJ2 mencari angin yg sepoi-sepoi di lantai tiga setengah. Ternyata, temen ane Idin, begitulah ane biasa panggil dia, lagi kesemsem sama ade kelas yang namanya Riani. Ane enggak setuju kalo Idin jadian sama Riani. Soalnya ane udah tau, Riani bisa buat pacarnya berubah 180 derajat. Makanya ane nggak setuju. Lagi juga dia cuma ngincar hartanya Idin (Idin emang bisa dibilang orang tajir. Di kelas aja, dipanggil "boss"). Nah, kelas Riani lagi ada di sebelah kelas ane. Lagi pada ngumpul di teras depan kelas. Pokoknya keadaan saat itu rame deh. "Idin! Kalo Idin jadian sama dia, cari aja emak yang laen!" kata ane mengultimatum Idin sambil nunjuk Riani. Oia, ane emang dipanggil emak sama temen-temen ane karena ane bawel banget. Ane sadar. Saat itu, ane ngomong dengan suara keras. Soalnya ane liat orang-orang di sekitar ane pada nengok ke ane. Termasuk Riani, cewe yang ane tunjuk. Riani cuma bisa nundukin kepa...

Jari Lentik

Ane lupa kejadian persisnya kapan. Yg ane inget cuma tempat kejadian itu.  Saat itu, ane sama ayah ane lagi asyik nonton TV sambil ngobrol. Ayah ane heran, karena ane nggak bisa ngapa-ngapin. Hal yg paling ane bisa lakuin cuma ngerusak peralatan rumah tangga kayak pel, sapu, piring, ane rusak semua. Ibu ane aja sampe kesel gara-gara setiap hari pasti ada barang-barang yg rusak karena ane. Kembali kagi ke bokap ane. (Lanjut? Klik aja judulnya)

Berhenti Sekolah

Masih terekam jelas di otak kita peristiwa tentang dukun cilik Ponari, bukan? Peristiwa dukun cilik ini pun masih ane inget. Tumben, biasanya sering lupa . Kenapa hal ini ane inget? Karena hal ini berkaitan dengan perkataan ibu ane. Ya. Perkataan ibu ane yang seringkali dalem a.k.a menyakitkan hati. Weits, tenang aja. Ada pengaruh positifnya kok punya ibu seperti ini, ane jadi kebal sama kata-kata dalem. Percakapan ini terjadi saat sore hari. Saat ane masih kelas 2 SMK. Ane dan Ibu ane lagi asyik nonton tv di ruang tengah. Eh, trus liat berita tentang penghasilan si dukun cilik Ponari. Seperti yg kita tau, emang penghasilannya nggak bisa dibilang kecil. "Lin, kamu nggak usah sekolah aja deh," Ibu ane ngajak ane ngobrol dengan memulai menyapa ane dengan panggilan 'Lina'. "Lah, kenapa mah?? Lina kan mau terus sekolah. Lina kan mau gapai cita-cita lina," tanya ane yang nggak nyangka ibu bakal nanya begitu. "Udah, kamu nggak usah sekolah aj. M...

Bocah Teriak Bocah

Membedakan kakak dengan adik itu adalah hal yang mudah. Karena biasanya, banyak perbedaan antara kakak dengan adik, mulai dari umur hingga sifat. Namun sepertinya, hal ini tidak berlaku di dalam keluarga ane. Padahal jelas-jelas, umur ane dengan Ais, ade ane, berbeda 11 tahun. Entah karena sang kakak, ane, sering berperilaku dan berkata seperti anak kecil atau karena Ais, sering berperilaku dan berkata seperti orang dewasa.  Ini adalah salah satu perkataan Ais yang, begitu deh... Bermula dari saudara ane, lebih tepatnya Mas, nunjukin rekaman saat dia nikah. Dia sengaja nunjukin soalnya keluarga ane nggak bisa dateng ke acara pernikahannya. Lagi asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba....mati listriknya. Bukan. TV-nya meledak. Juga bukan. Tiba-tiba Ibu ngomong hal yang nyindir ane. "Tau nih, yang ini disuruh nyari, malah nggak dapet-dapet," sindir Ibu dengan menunjuk ke arah ane dengan matanya.   "Iya nih! Kayak bocah sih!" seru Ais yang langsung nyamber ...

Bunyi "CESS"

Mata kuliah Penulisan 2 kali ini ngebahas tentang pengembangan paragraf yang beruntun. "Ayo, coba belajar menceritakan kejadian secara runtun. Apa yg adik-adik sekalian lakukan jika sudah pulang dari kampus?? Coba bembi jawab..." tanya dosen ane yang cantik dan baik hati seperti bidadari turun dari khayangan. "Tidur, bu!" Bembi menjawab dengan logat betawi-nya. "Coba Toni…" tanya dosen ane lagi ke mahasiswa lain, Toni. "Saya akan berkunjung ke rumah teman saya," Toni menjawab dengan jelas dan padat. "Coba Angga…" "Ke rumah temen saya, bu." jawab Angga singkat. "Nah, kita sendiri bisa denger kan, mana jawaban yang paling tepat struktur kalimatnya…" Dosen ane memberikan penjelasan. "Coba toni maju, ceritakan apa yg akan kamu lakukan ketika pulang dari kampus," lanjutnya. "Bener nih bu, saya maju?" tanya Toni untuk meyakinkan. "Iya," Tiba-tiba temen ane, nama pangg...

Faisa Si Malaikat Kecil atau Si Teroris Kecil?

Siapa itu Faisa? Faisa adalah malaikat kecil yang dilahirkan Linda. Apa? Linda? Iya. Linda sudah menikah dan memiliki seorang putri yang cantik. Ane dan Ketty baru sempet nengok si kecil saat ia udah berusia 4 bulan.

Masa Depan?

Siang hari saat nggak ada guru yang ngajar a.k.a jam pelajaran kosong, anak-anak sekelas menikmati angin yang berhembus di kelas ane, di lantai tiga setengah. Ane sebut tiga setengah setengah soalnya cuma ada lima anak tangga di lantai 3.  Sebenernya di sekolah ane ada dua gedung. Gedung SMK sama gedung SMP. Gedung SMK ada tiga lantai, gedung SMP ada empat lantai. Tapi lantai yang keempat gedung SMP itu buat SMK. Ane lagi menikmati angin sepoi-sepoi di teras kelas. Tiba-tiba temen ane yang namanya Nur, nyamperin ane. "Mei, kalo udah lulus lu mau kemana?" "Yang pasti sih, mei kuliah nur. Tapi nggak tau dimana. Emangnya nur sendiri mau kemana?" "Gue mah mau kerja di pt itu aja," kata Nur sambil nunjuk gudang minimarket yang ada di deket sekolah ane. "Emang kenapa mau kerja di sana?" "Ih, mei kan di sana karyawan cowonya cakep-cakep," "Oh, gitu ya nur..." jawab ane datar. "I...ye......

Menengok Si Kembar

Mempunyai anak bagi sebagian besar keluarga merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Begitu juga, yang dirasakan Babe. Dia telah dianugerahi dua orang putra dan kali ini dia juga dianugrahi lagi dua orang putra kembar. Betapa bahagianya dia. Hal itu terlihat dari pancaran cahaya yang menerangi wajahnya. Bayi kembar ini diberi nama Fauzan dann Fauzi. Entah bagaimana cara membedakan mereka berdua. Hingga sekarang pun, ane nggak bisa bedain mereka. Geng UP punya inisiatif buat ngejenguk si kembar di rumah Babe. Rumah Babe terletak di jalan Raya Centex Ciracas. Tepatnya, ane lupa kapan waktunya. Satu hal yang ane inget kita ke rumah Babe pakai baju bebas a.k.a bukan seragam sekolah. Kita janjuan ngumpul di depan sekolah.  Kita pun sempat berdebat tentang kendaraan yang mau kita naiki buat ke sana. Sebenernya sih, nggak perlu debat juga. Lah, kendaraan umum banyak hilir-mudik di hadapan kita. Namun, tetep geng UP bakal nyari cara ke sana dengan gratis :D ...

Rejeki Bersama

Guru-guru sedang rapat. Termasuk Babe sang guru kewarganegaraan. Entah apa yang mereka bahas dalam rapat tersebut. Hal yang ane tau pasti yaitu mereka pasti memutuskan hal yang terbaik buat para anak didiknya.  Setelah rapat selesai, Babe ke kantor guru sambil membawa makanan yang didapet dari rapat. Hal yang biasa kan kalau rapat pasti ada konsumsi? :D Septi adalah anggota geng UP yang pertama kali ngeliat Babe bawa makanan. "Eh, babe bawa apa tuh? Makanan ya be?" tanya Septi yang tiba-tiba muncul dihadapan Babe. "Ikutin ah…" kata Ketty sambil jalan. Bagaikan barisan bebek, anak bebek mengikuti induknya, begitu juga kita. Babe diikuti oleh Septi, Kety, Linda dan ane menuju kantor. Setelah sampai di kantor, kita ngeliat makanan yang dibawa Babe. Sebuah kotak makan yang berisi dua ayam goreng, satu cup nasi, sama satu botol minum. "Ini neng, babe nggak suka," "Ya elah, be…makanan enak gini nggak doyan," kata Linda merem...

Mangga Colongan

Waktu itu lagi musim pohon mangga berbuah. Geng UP yang seneng makan rujak nggak akan ngelewatin musim mangga berlalu gitu aja. Cuman masalahnya diantara kita berempat nggak ada yang punya pohon mangga. Geng UP berpikir gimana caranya ngerujak mangga tanpa ngeluarin uang a.k.a gratis. " Eh, di deket rumah nda ada pohon mangga. Yang punya nggak ada alias rumahnya kosong," kata Linda, mengawali percakapan. "Ih, mau nyolong mangga ya?? Jangan nanti abis makan ntu mangga sakit perut," kata ane, nggak setuju. "Ayo, nda! Kita ambil aja," kata Ketty yang setuju dengan Linda. "Yeh, dibilangin malah begitu. Ya udah mei nggak tanggung jawab. Mei nggak mau makan mangganya," "Ya udah," kata Septi mengakhiri. "Ket, nanti lu yang manjat ya. Gue yang nangkep mangganya," kata Linda yang sedang mengatur strategi. "Ah! Lu mah nda!" kata Ketty tidak setuju. Kemudian ia lihat teman-temannya yang sama sekali nggak ad...

Bunyi Apa Tuh?

Salah satu hal yang dilakukan geng UP adalah ngumpul di teras depan kelas. Ane, Kety, dan Septi duduk di anak tangga paling atas. Sementara itu, Linda berdiri di seberang tangga. Ane duduk di anak tangga ke-10, Ketty duduk di anak tangga ke-12, sedangkan Septi duduk di anak tangga ke-15. Kita lagi asyik bercanda sekaligus main kata-kataan persis kayak anak kecil. Tiba-tiba dari arah belakang kita, temen ane sebut aja namanya Badu, dateng kemudian jongkok. "Ssssttttt....Jangan berisik," kata Badu memperingatkan. Sontak kita diam, ngikutin perkataan Badu.  "Pasti ada sesuatu yang penting disampein," pikir ane. Tiba-tiba terdengar suara aneh.  "Tuuuut…."  Ane, Septi, dan Ketty langsung saling pandang. Seakan-akan sudah berjanjian, kemudian kami melihat Badu.  1 detik... hening 2 detik... hening 3 detik... hening "Hahahahahaha," Kita berempat langsung ketawa cekakakan sambil menjauh dari tangga. "Badu!!...

Sebungkus Untuk Berlima

Babe adalah salah satu guru yang ngajar ane. Nama aslinya adalah *sensor* (Maaf, nama aslinya ane samarin. Ini ane lakuin demi kelangsungan hidup ane.). Beliau mengajar Kewarganegaraan dan IPS. Dia juga wali kelas ane selama dua taun. Jadi, wajar aja kalo ane, Ketty, Linda, dan Septi (sahabat ane di SMK) deket banget sama dia. Dia baek baget ama ane.  "Nih, si mei mau bapak manjain ah. Lagian kasian bapaknya jarang ada di rumah.” kata dia ke ane karena emang ayah ane kerja di luar kota. Pernah suatu pagi saat anak-anak yang lain sibuk belajar di kelas, tapi kelas ane udah istirahat. Ane ama temen-temen ane (Linda, Septi, Ketty kita bergabung dalam geng UP singkatan dari Under Pentium. Kebayang kan gan betapa lemotnya kita.) ke kantor guru. Ternyata ada Babe yang lagi asyik sarapan pake nasi uduk. "Lagi makan apa be??" tanya Linda berbasa-basi. "Makan nasi uduk, neng," "Cobain ah, nasi uduknya," kata Ketty sambil nyomot kerupuk. ...

Saat Fungsi Materai dan Perangko Tertukar

Mungkin bagi sebagian orang, kantor pos adalah tempat yang biasa-biasa aja, nggak ada istimewanya. Namun, nggak bagi ane, kantor pos adalah tempat yang nggak pernah bisa ane lupain. Kenapa? Karena di sanalah harga diri ane turun akibat perbuatan temen ane yang malu-maluin. Berawal dari perintah ibu ane buat ane ngirim dokumen lewat kantor pos. Daripada ane disebut anak durhaka, mendingan ane turutin perintahnya. Ane ke kantor pos pas pulang sekolah dianterin dua orang sahabat ane, Linda dan Ketty. Kebetulan jarak kantor posnya nggak jauh dari sekolah ane. Jujur ini adalah kali pertama ane ke kantor pos. Ternyata, kedua temen ane juga sama kayak ane, baru pertama kali ke kantor pos. Dengan modal nekat tanpa pengalaman, kita jalan ke kantor pos.   Saat udah nyampe kantor pos, ane liat kesekeliling. Banyak orang hiruk-pikuk di depan ane, ada yang lagi duduk, ada yang lagi ngantri, ada juga yang lagi jongkok karena nggak kebagian tempat duduk. Ra...

Geng UP

UP adalah nama geng ane saat SMK. UP sebenernya singkatan dari Under Pentium tapi terkadang kita juga menggunakan istilah Unix People. Geng UP terdiri atas 4 orang, Meilina (ane), Ketty, Linda, dan Septi. Ini adalah lagu kebangsaan geng UP tapi anggota geng UP nggak pernah hapal lirik lagunya (-_-") Ketty  Cowo yang satu ini. Eh, salah. Cewe yang satu ini dikenal dengan mantan preman. Ups! Sebenernya lebih tepat dia ini cewe macho. Gimana nggak? Galaknya minta ampun, juteknya setengah mati. ------------------------------- Seperti layaknya anak yg masuk smk. Saat melakukan prakerin (itu tuh nama lainnya PKL, pedagang kaki lima, ups maksud ane praktek kerja lapangan), para siswa diharuskan memiliki buku laporan. Nah, di dalam buku itu harus ada tanda tangan yg bermateraikan 6000. Jujur, nyampe sekarang ane nggak tau alasan harus pake materai. Mungkin biar anak yang PKL nggak kabur atau biar anak PKL nggak jadi maho (loh, apa h...