Langsung ke konten utama

Sebungkus Untuk Berlima

Babe adalah salah satu guru yang ngajar ane. Nama aslinya adalah *sensor* (Maaf, nama aslinya ane samarin. Ini ane lakuin demi kelangsungan hidup ane.). Beliau mengajar Kewarganegaraan dan IPS. Dia juga wali kelas ane selama dua taun. Jadi, wajar aja kalo ane, Ketty, Linda, dan Septi (sahabat ane di SMK) deket banget sama dia. Dia baek baget ama ane. 

"Nih, si mei mau bapak manjain ah. Lagian kasian bapaknya jarang ada di rumah.” kata dia ke ane karena emang ayah ane kerja di luar kota.

Pernah suatu pagi saat anak-anak yang lain sibuk belajar di kelas, tapi kelas ane udah istirahat. Ane ama temen-temen ane (Linda, Septi, Ketty kita bergabung dalam geng UP singkatan dari Under Pentium. Kebayang kan gan betapa lemotnya kita.) ke kantor guru. Ternyata ada Babe yang lagi asyik sarapan pake nasi uduk.

"Lagi makan apa be??" tanya Linda berbasa-basi.

"Makan nasi uduk, neng,"

"Cobain ah, nasi uduknya," kata Ketty sambil nyomot kerupuk.

Awalnya, cuma Ketty yang nyobain. Eh, akhirnya ane, Linda, ama Septi ikut-ikutan nyobain. Sebenernya lebih tepat ngerampok sih. Soalnya kalo nyobain kan sedikit, tapi kita mah banyak.

 "Be, beli di mana??" tanya Septi sambil nyuap nasi uduk.

"Deket rumah babe. Di beliin nih ama istri babe,"

"Beli berapa be?" tanya Linda

"Cuma beli dua ribu,"

"Kok enak sih be?? Lagi ah." kata Ketty sambil nyuap.

"Iya dong enak. Murah lagi,"

"Be, sambelnya pedes banget. Yang bikin sambelnya lagi marah nih," ucap ane sambil megap-megap kepedesan.

"Iya pedes, neng. Babe ambilin minum gih,"

Sekalian, Mei ya be?" tanya ane.

"Iya.." kata Babe dengan wajah tanpa ekspresi.

Akhirnya, ane ngambil dua gelas air, buat Babe sama buat ane rame-rame (termasuk Linda, Septy, Ketty). Tiba-tiba ada guru wanita dateng.

"Ini ada apa rame-rame??" tanya bu guru kebingungan.

"Lagi sarapan nasi uduk bu,"

Trus bu guru tersebut nyamperin kemudian nyomot kerupuk sambil nyoel sambel.

"Pedes banget sambelnya," kata bu guru sambil kepedesan.

"Emang bener tuh, bu,"

Bu guru tersebut pun pergi meninggalkan kita.
 
Nggak kerasa tau-tau nasi uduknya abis. Gimana nggak? wong, satu bungkus dimakan sama lima orang.

"Be, besok bawa nasi uduk lagi ya??" pesan Septi dengan wajah yang tidak berdosa.

"Nggak ah! Lagian kalo babe bawa, nanti diabisin ama kalian," kata Babe sambil sedikit ngambek.

Ane, Linda, Septi, dan Ketty cuma nyengir kayak kuda. Biar nggak kena semprotan, kita mengambil langkah seribu alias kabur, keluar dari kantor guru. Bener-bener SMP (sehabis makan pulang cuman kalo kita sehabis makan kembali ke kelas). Hehehehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.