Langsung ke konten utama

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati
Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu.

Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi.

Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?". Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.". Dari situ, juga dapat situs untuk relawan, www.indorelawan.org. Di sana, member bisa mengikuti kegiatan relawan apa saja yang bisa sesuai dengan kemauan dan waktu.

Dari situs itu, Mei pernah ikut kegiatannya. Pertama, jualan makanan untuk penggalangan donasi bagi para penderita kanker anak yang diadain Komunitas Taufan. Kedua, jadi kakak sehari bagi para yatim/piatu, menemani nonton, yang diadain Dompet Dhuafa. Kebetulan, kedua kegiatan tersebut dilakukan di Jakarta.

Trus Mei berpikir, "kenapa enggak nyari yg daerah Depok aja?". Mei pun mencari tahu. Ketemu lah tentang Sekolah Relawan (Yayasan sosial yg khusus mendidik orang2 menjadi relawan. Jadi relawan yang bukan modal nekat aja) dan Depok Clean Action (salah satu 'anak' dari Sekolah Relawan, sebuah Komunitas lingkungan non pemerintah yang fokus kegiatannya, menyadarkan masyarakat akan pentingnya buang sampah pada tempatnya). Ternyata, setelah hampir 2 tahun hingga saat ini, Mei (dipaksa) betah di Depok Clean Action, hingga menjadi pengurusnya.

Tiba-tiba, pikiran Mei melayang ke saat Mei baca hasil psikotest. Psikotest yg dilaksanain pas Mei masih SMP. Mei baca tentang minat Mei, tertulis, cocok jadi relawan. Padahal? Pas Mei ngerjain soal psikotest, ada soal kira-kira gini, "siapakah pendiri Palang Merah?" Mei jawab Henry Dunant, dong. Mei hafal. Mei tahu itu. Lah wong, saat itu Mei jadi anggota PMR, kok. Alasan jadi anggota PMR saat itu? Biar kalau ikut upacara, berdiri di daerah yg teduh malah bisa nggak ikut upacara. Hihihihi. Parah. Jangan ditiru! 

Akhirnya, Mei tutup tulisan pengalaman ini dengan mengutip seorang pendiri dari Sekolah Relawan, Bayu Gawtama yg sering dipanggil dengan panggilan Bang Gaw, "untuk menjadi relawan, enggak harus ikut Komunitas. Bisa sendiri, kok. Misalnya dengan memberi sedekah ke pengamen."

Sekian.

Salam muuuaaaccchhhh,

Mei yang lagi tengil

Komentar