![]() |
| Jadi rela-wati |
Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup
kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak
tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan ke mana? Mei pernah. Apa
yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil
menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu.
Cukup
lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang
belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena
biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi.
Kegiatan
relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang
dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home
Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker
anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak
ya?". Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when
you want something, all the universe conspires in helping you to achieve
it.". Dari situ, juga dapat situs untuk relawan, www.indorelawan.org. Di sana, member bisa mengikuti kegiatan relawan apa saja yang bisa sesuai dengan kemauan dan waktu.
Dari
situs itu, Mei pernah ikut kegiatannya. Pertama, jualan makanan untuk
penggalangan donasi bagi para penderita kanker anak yang diadain
Komunitas Taufan. Kedua, jadi kakak sehari bagi para yatim/piatu,
menemani nonton, yang diadain Dompet Dhuafa. Kebetulan, kedua kegiatan tersebut dilakukan di Jakarta.
Trus
Mei berpikir, "kenapa enggak nyari yg daerah Depok aja?". Mei pun
mencari tahu. Ketemu lah tentang Sekolah Relawan (Yayasan sosial yg
khusus mendidik orang2 menjadi relawan. Jadi relawan yang bukan modal
nekat aja) dan Depok Clean Action (salah satu 'anak' dari Sekolah Relawan, sebuah Komunitas lingkungan non
pemerintah yang fokus kegiatannya, menyadarkan masyarakat akan
pentingnya buang sampah pada tempatnya). Ternyata, setelah hampir 2
tahun hingga saat ini, Mei (dipaksa) betah di Depok Clean Action, hingga menjadi pengurusnya.
Tiba-tiba,
pikiran Mei melayang ke saat Mei baca hasil psikotest. Psikotest yg
dilaksanain pas Mei masih SMP. Mei baca tentang minat Mei, tertulis,
cocok jadi relawan. Padahal? Pas Mei ngerjain soal psikotest, ada soal
kira-kira gini, "siapakah pendiri Palang Merah?" Mei jawab Henry Dunant, dong. Mei hafal. Mei tahu itu. Lah wong, saat itu Mei jadi anggota PMR, kok.
Alasan jadi anggota PMR saat itu? Biar kalau ikut upacara, berdiri di daerah yg
teduh malah bisa nggak ikut upacara. Hihihihi. Parah. Jangan ditiru!
Akhirnya,
Mei tutup tulisan pengalaman ini dengan mengutip seorang pendiri dari
Sekolah Relawan, Bayu Gawtama yg sering dipanggil dengan panggilan Bang
Gaw, "untuk menjadi relawan, enggak harus ikut Komunitas. Bisa
sendiri, kok. Misalnya dengan memberi sedekah ke pengamen."
Sekian.
Salam muuuaaaccchhhh,
Mei yang lagi tengil

Komentar