Langsung ke konten utama

Jadi Rela-wati (Bagian 2)

Jadi Rela-wati (Bagian 2)

Banyak hal positif yang Mei rasakan saat Mei mulai terjun dan terus berada di suatu perkumpulan relawan. Bisa dikatakan, Mei merasakan keberuntungan yang lebih banyak. Walaupun, sebelumnya juga suka beruntung, tapi lebih aja rasanya gitu. Hingga suatu hari teman dekat Mei, Hesti Sensei, bilang, "Mei lu itu baik sama alam, makanya alam juga baik sama lu. Dan gua ketularan baik-nya alam." Itu yang dia bilang setelah kita berkunjung ke acara Ennichisai 2017 di Blok M. Bukannya tanpa alasan dia bilang gitu. Banyak 'keberuntungan' yang menimpa dia di hari itu. Mulai dari bertemu dan berfoto dengan aktor idolanya, Joe Taslim hingga foto kami dimuat di Tribunnews.com. Padahal, tahun sebelumnya dia berkunjung ke sana, enggak ada hal istimewa yang terjadi.

Hal positif yang terjadi dengan diri Mei sendiri? Hmm.. Banyak! Banyak juga keuntungan yang tidak terduga. Misalnya, ada orang yang memberikan Mei cokelat saat Mei mau cokelat,  dekat dengan penambal ban saat ban motor bocor, hingga orang-orang yang selalu ada di dekat Mei saat Mei butuh tempat ngegalon alias tempat curhat. 

Anggaplah itu karma dalam istilah Budha, atau golden rule dalam istilah Kristen, atau sunatullah dalam istilah Islam, atau bisa juga manungsa mung ngunduh wohing pakarti dalam istilah Jawa. Intinya sama, SEGALA SESUATU YANG KITA LAKUKAN AKAN KEMBALI KEPADA KITA. Perbuatan baik kita kepada orang lain akan kembali kepada kita. Ya, walaupun bukan di dunia, bisa di akhirat nanti. Begitu juga dengan perbuatan jahat. Jadi, Mei anggap semua hal baik atau keberuntungan yang terjadi di diri Mei atau orang-orang di sekitar Mei, berasal dari perbuatan Mei sendiri. Jangan bosan berbuat baik menurut kebanyakan orang. Jangan pedulikan apa kata orang-orang. Seperti kutipan Scott Stabile di bawah ini:

 “Let them judge you.
Let them misunderstand you.
Let them gossip about you.
Their opinions aren’t your problem.
You stay kind, committed to love,
and free in your authenticity.
No matter what they do or say,
don’t you dare doubt your worth
or the beauty of your truth.
Just keep on shining like you do.” 

Itu baru salah satu hal positif yang Mei dapat dari sekian banyak hal-hal positif yang Mei dapat dari menjadi rela-wati. Padahal, Mei tidak terlalu aktif di dunia itu. Allah Maha Mengetahui, kan?


*Ini bukan tulisan pamer. Tulisan ini merupakan ajakan untuk berbuat baik dengan memberikan contoh nyata yang didapat dari kebaikan itu sendiri. Pinjam istilah salah satu pendiri Sekolah Relawan, Bang Gaw, "jika kalian merasa tulisan ini adalah ajang pamer hingga membuat kalian benci dan dendam, maka pilihannya cuma dua: ingin terus benci atau ikut berbuat baik". You decide.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.