Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Jadi Rela-wati (Bagian 2)

Jadi Rela-wati (Bagian 2) Banyak hal positif yang Mei rasakan saat Mei mulai terjun dan terus berada di suatu perkumpulan relawan. Bisa dikatakan, Mei merasakan keberuntungan yang lebih banyak. Walaupun, sebelumnya juga suka beruntung, tapi lebih aja rasanya gitu. Hingga suatu hari teman dekat Mei, Hesti Sensei, bilang, "Mei lu itu baik sama alam, makanya alam juga baik sama lu. Dan gua ketularan baik-nya alam." Itu yang dia bilang setelah kita berkunjung ke acara Ennichisai 2017 di Blok M. Bukannya tanpa alasan dia bilang gitu. Banyak 'keberuntungan' yang menimpa dia di hari itu. Mulai dari bertemu dan berfoto dengan aktor idolanya, Joe Taslim hingga foto kami dimuat di Tribunnews.com. Padahal, tahun sebelumnya dia berkunjung ke sana, enggak ada hal istimewa yang terjadi. Hal positif yang terjadi dengan diri Mei sendiri? Hmm.. Banyak! Banyak juga keuntungan yang tidak terduga. Misalnya, ada orang yang memberikan Mei cokelat saat Mei mau cokelat,  dekat dengan...

Menenangkan diri di Café Halaman

Bosan dengan suasana Depok yang panas, macet, dan suara klakson kendaraan? Cobalah tenangkan diri di Café Halaman. Café ini terletak di pinggir Jalan Tanah Baru Depok ini memudahkan kita untuk menuju sana. Tepatnya di Jalan Raya Tanah Baru No. 21 Depok. Kesan hijau dan homy adalah kesan yang timbul saat pertama kali masuk ke café ini. Dikelilingi pohon-pohon rindang, suara burung merdu hingga suara gemericik air menjadi hal-hal yang cocok untuk mencari ide atau sekedar menenangkan diri dari kepenatan hari kerja. Bahkan ada kura-kura dan ikan. Cocok untuk membawa anak-anak ke sini. Tapi ingat ya, tetap anak-anak harus tetap diawasi. Café ini terdiri dari banyak saung baik lesehan ataupun dengan kursi. Hal ini tentu menambah kenyamanan pengunjung karena mereka bisa memilih saung mana yang ingin ditempati . Makanan di sini sangat beragam mulai dari aneka mie hingga nasi.  “Makanan dan minuman yang aku rekomendasikan di sini itu makanan berupa mie sama minu...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Allah itu Maha Baik

Allah itu Mahabaik "Allah itu Maha Baik" Mei pernah mengeluarkan pernyataan itu. Saat itu, Mei baru tersadar akan jalan pilihan Allah memang yang terbaik.  "Untung, Mei enggak jadi sama dia. Coba kalo jadi. Gimana nasibnya Mei?" begitu yang terucap saat Mei baru mengetahui karakter asli seorang laki-laki yang pernah Mei sukai. Semoga, suatu saat nanti, Mei akan mengeluarkan pernyataan yang sama, "Allah itu Maha Baik" atas apa yang sudah terjadi beberapa bulan belakangan ini. Amin. Percaya lah, Allah itu Maha Baik. Sabar. Tunggu.  *Udah tahu Allah itu Maha Baik tapi masih jauh dari-Nya. Waras, Mei?

Selingkuh Gaya Paulo Coelho

Apa yang terbesit di pikiran Anda saat membaca atau mendengar kata “selingkuh”? Sesuatu yang dilarang secara umum tapi juga umum dilakukan. Persoalan ini lah yang diangkat oleh Paulo Coelho dalam novelnya yang terbit tahun 2014, Selingkuh . Selingkuh yang memiliki judul internasional Adultery ini dikemas dalam 272 halaman. Novel ini bercerita tentang seorang wanita sempurna bernama Linda yang berumur tiga puluh tahun. Linda menjalankan tiga peran dalam kehidupannya sehari-hari: seorang ibu dari dua anak, seorang istri dari suami konglomerat Swiss, dan seorang jurnalis senior di sebuah perusahaan surat kabar besar di Jenewa. Kehidupan yang sangat sempurna hingga banyak membuat wanita iri kepadanya. Hingga suatu saat, ia merasa kehilangan gairah hidup yang biasa kita sebut dengan depresi. Semuanya berawal pada sebuah wawancara dengan seorang penulis yang mengatakan, “Aku sama sekali tidak berminat menjadi bahagia. Aku memilih hidup dengan penuh gairah, yang tentu saja berbahay...