Langsung ke konten utama

Selingkuh Gaya Paulo Coelho


Apa yang terbesit di pikiran Anda saat membaca atau mendengar kata “selingkuh”? Sesuatu yang dilarang secara umum tapi juga umum dilakukan. Persoalan ini lah yang diangkat oleh Paulo Coelho dalam novelnya yang terbit tahun 2014, Selingkuh. Selingkuh yang memiliki judul internasional Adultery ini dikemas dalam 272 halaman.


Novel ini bercerita tentang seorang wanita sempurna bernama Linda yang berumur tiga puluh tahun. Linda menjalankan tiga peran dalam kehidupannya sehari-hari: seorang ibu dari dua anak, seorang istri dari suami konglomerat Swiss, dan seorang jurnalis senior di sebuah perusahaan surat kabar besar di Jenewa. Kehidupan yang sangat sempurna hingga banyak membuat wanita iri kepadanya. Hingga suatu saat, ia merasa kehilangan gairah hidup yang biasa kita sebut dengan depresi. Semuanya berawal pada sebuah wawancara dengan seorang penulis yang mengatakan, “Aku sama sekali tidak berminat menjadi bahagia. Aku memilih hidup dengan penuh gairah, yang tentu saja berbahaya karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.” (halaman 10).


Tidak disangka pernyataan singkat si penulis membuat ia terus berpikir tentang dirinya sendiri, “hanya sebegini saja kah kehidupanku?”. Dan membuat ia tersadar bahwa ia tidak pernah mengambil resiko sama sekali. Rasa kebosanan dengan rutinitas dan ketakutan akan suatu hal yang baru membuatnya bingung dengan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia bertemu dengan mantan kekasihnya saat SMA, Jacob Konig.  Saat bertemu Jacob, ia merasakan kembali gairah hidup padahal ia dan Jacob sudah memiliki keluarga.


Paulo menggambarkan banyak konflik dalam diri Linda. Konflik batin melakukan hal yang salah tetapi merasakan gairah kehidupannya kembali atau melakukan hal yang benar tetapi mengalami hal yang sama terus-menerus dalam hidup. 


“Meski begitu, waktu berhenti semenjak aku menikah. Sampai ketika aku bertemu penulis mengerikan itu dan mendengar jawabannya atas pertanyaanku. Maksudku, apa salahnya dengan rutinitas dan kebosanan? Sejujurnya, tidak ada yang salah sama sekali. Hanya saja… hanya saja rasa takut diam-diam bahwa segala sesuatu dapat berubah dari satu saat ke saat berikutnya, ketika kau sama sekali tidak menyadarinya.” (halaman 11)


Tema perselingkuhan yang diangkat menjadikan novel ini kategori novel dewasa. Ada bagian yang menceritakan tentang hubungan suami istri. Jadi, pastikan kalian sudah berumur di atas 17 tahun atau memiliki pemikiran yang cukup terbuka mengenai hal itu.


Alur maju menjadi dominan dalam novel ini. Dan juga menjadikan alur novel ini mudah ditebak. Tapi, bukan Paulo Coelho namanya jika tidak menggunakan diksi-diksi yang tepat sehingga membuat pembaca merasa tertohok dan berpikir.


“Bermimpi tidak sesederhana kelihatannya. Sebaliknya, bermimpi bisa cukup berbahaya. Ketika bermimpi, kita menyalakan mesin-mesin berkekuatan besar yang tidak lagi dapat menyembunyikan makna hidup kita yang sebenarnya dari diri kita sendiri. Ketika bermimpi, kita juga membuat pilihan tentang harga yang kita bayar.” (halaman 261)


Untuk kesekian kali Paulo Coelho menggunakan sudut pandang pertama sebagai wanita dalan novelnya. Dalam novel-novel sebelumnya Paulo juga menempatkan sudut pandang sama seperti  dalam novel Sebelas Menit dan Di Bawah Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis.


Novel ini tidak cocok dibaca saat senggang karena diksi yang digunakan membuat pembaca harus berpikir mengenai pesan yang ingin disampaikan. Untuk keseluruhan, penulis memberikan nilai 8/10 untuk Selingkuh. Great job, Paulo!


Sampul bukunya sudah jelek. Banyak lipatan di sana-sini. Itu bukan karena bukunya sering dibaca tapi karena sering dibawa di dalam tas. Hihihihi.
Judul : Selingkuh
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Tahun Terbit : 2015
Tebal Halaman : 272 halaman
Rate (subjektif) :  8/10


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.