Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Tingkat Minat Baca Masyarakat Rendah: Salah Siapa?

Photos by @james_trevino Dari data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun.   Tentu tidak mengherankan jika sebuah   studi  "Most Literred Nation in the world 2016",  menghasilkan pernyataan  bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara tentang minat baca. Hal itu bukanlah hal yang membanggakan. Banyak dampak negatif dari rendahnya minat baca orang Indonesia. Kemunculan pemberitaan palsu ( hoax ) menjadi salah satu dampak nyata. Hal ini juga diungkapkan dalam Perayaan  Hari Kebebasan Pers Dunia 2017   dengan tajuk  " Critical Minds for Critical Times: Media's Role in Advancing Peaceful, Just and Inclusive Societies " . Lalu,  Mengapa hal ini masih bisa terjadi? Dan siapakah yang harus disalahkan? Buku Berkualitas Mahal Banyak orang setuju bahwa s...

Jadi Rela-Wati (Bagian 4): keREADta

Bangga Jadi Relawan. #AyoMembaca Hari buku sedunia diperingati setiap tanggal 23 April. Tahun ini, Mei melakukan hal yang berbeda dari tahun sebelumnya. Jadi relawan keREADta.  Daaannnn....kali ini Mei juga berhasil ngebujuk Desy, teman kerja sekaligus teman main Mei, untuk ikut gabung. Bujukannya dahsyat! Hihihihihi. Wefie di gerbong kereta yang menuju tempat kumpul relawan keREADta. Pliiissss jangan fokus ke mata Mei yang merem, fokus ke sepatu yang Mei pakai aja.... Apa itu keREADta? keREADta adalah sebuah kampanye membaca di kereta yang sedang melaju. Jugejagejugejagejug... Kereta berangkat..... Kampanye ini dilakukan pada minggu, 22 April 2018 di dalam gerbong kereta yang sedang melaju dari Stasiun Kota ke Stasiun Universitas Indonesia. Mei berangkat dari rumah sekitar pukul 6.00 pagi. Karena tempat kumpul relawan di Stasiun Kota dan pukul 7.30 harus sudah sampai, Mei rela bangun pagi-berangkat pagi-tanpa sarapan. Perkiraan perjalanan dari ru...

Ketika Hal-hal yang Menyenangkan Didapat dari Para Bajingan

Siapa yang enggak setuju jika masa perantauan saat kuliah adalah masa paling sulit dilupakan? Jauh dari keluarga membuat perantau dekat dengan teman-teman kampus. Menemukan/membuat “keluarga” baru. Seperti ingin membagikan kisah-kisahnya agar abadi, dan juta untuk membongkar aib teman-temannya, Puthut Ea menuangkannya dalam bentuk tulisan berupa buku yang berjudul Para Bajingan yang Menyenangkan. Puthut yang berkuliah di UGM dan mendapat teman baru, (alm) Jadek, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Meraka menjadi akrab karena hobi mereka yang sama, bermain judi.   “Kalau menang sok-sokan, kalau kalah berteori.” Secaras keseluruhan, novel ini menceritakan tentang kisah-kisah konyol dan jahil Puthut cs selama di Jogja.  Suatu saat, saya dikasih tahu almarhum teman saya bahwa nanti malam kami akan main judi. Tugas saya memberi tahu Bagor. Siang itu juga saya ke wartel, menelepon Bagor. “Tapi aku dijemput ya, Bung...” “Lha kenapa?” “Sepeda motork...