Langsung ke konten utama

Tingkat Minat Baca Masyarakat Rendah: Salah Siapa?

Photos by @james_trevino


Dari data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun. Tentu tidak mengherankan jika sebuah studi "Most Literred Nation in the world 2016", menghasilkan pernyataan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara tentang minat baca. Hal itu bukanlah hal yang membanggakan.

Banyak dampak negatif dari rendahnya minat baca orang Indonesia. Kemunculan pemberitaan palsu (hoax) menjadi salah satu dampak nyata. Hal ini juga diungkapkan dalam Perayaan Hari Kebebasan Pers Dunia 2017 dengan tajuk "Critical Minds for Critical Times: Media's Role in Advancing Peaceful, Just and Inclusive Societies".

Lalu, Mengapa hal ini masih bisa terjadi? Dan siapakah yang harus disalahkan?

Buku Berkualitas Mahal

Banyak orang setuju bahwa suatu kebiasaan yang baik itu lebih baik diajarkan/diperkenalkan sejak dini. Termasuk, membaca buku.
Banyak orang tua kelas menengah ke bawah atau orang tua kelas bawah yang bergaya kelas atas, beranggapan bahwa buku itu mahal. Jadi, untuk apa beli buku jika dananya bisa dipakai untuk kepentingan lain. Misalnya, sekolah. 

Karena target membaca adalah anak-anak, maka buku bacaan harus menarik. Mulai dari materi, gambar hingga bentuknya (pop up book). Karena gambar yang bagus berarti kertas yang digunakan harus mendukung. Sayang kan, gambar sudah bagus terus kertas yang digunakan malah kertas jelek yang malah bisa menurunkan kualitas gambar itu. Belum lagi biaya editing. Buku anak harus melewati proses editing. Nggak mau kan, anak kecil baca kata-kata yang nggak pantas didengar, seperti bajingan atau brengsek. Belum lagi kata-kata "tinggi" yang mengharuskan orang tua menjelaskan arti kata-kata itu. Banyak dilema lain yang bisa membuat biaya produksi sebuah buku anak berkualitas menjadi lebih mahal.

Pengalaman Pribadi

Buku bacaan (selain buku pelajaran) merupakan hal yang tidak dipikirkan bagi orang tua Mei. Mereka masih menganggap buku itu mahal dan belum terlalu banyak gunanya. Mei sendiri merasa agak tersiksa dengan hal itu. Alhasil, saat Mei sudah menghasilkan uang sendiri, lepas kendali, setiap bulan harus menyisihkan uang tersendiri untuk membeli buku bacaan.

Mei enggak mau hal "pahit" ini juga dirasakan adik Mei satu-satunya. Makanya, saat Mei membeli buku, dia juga harus dibelikan buku. Selain agar dia tidak merasakan hal apa yang Mei rasakan, hal itu juga Mei lakuin untuk menumbuhkan minat baca dia. Setiap bulan Mei belikan dia buku anak berkualitas (sejak dia masih kelas 4 SD, sekarang kelas 3 SMP), walaupun orang tua Mei tetap menganggap itu hal yang sia-sia. Bagi Mei, strategi Mei ini berhasil. Terbukti saat dia ulang tahun atau melakukan sesuatu prestasi, Mei tanya, "mau hadiah apa?". Dengan lantang, dia menjawab, "buku". Ayey! Dan sekarang, dia jadi cerdas, suka meminjam buku dari teman atau dari perpustakaan. Atau dia ikut kuis-kuis di Instagram untuk memenangkan hadiah buku.

Solusi

Dari pengalaman Mei tadi, ada simpulan bahwa peran orang tua sangat berpengaruh. Plisssssss ubah pikiran tentang "buku itu mahal dan enggak penting". Sesuatu yang besar bisa dimulai dari sesuatu yang kecil. Didik anak-anak dengan pengetahuan dan buku. Sehingga minat baca meningkat, hoax bisa ditangkal, tidak mudah ditipu, dan lain-lain. 

Selamat Hari Buku Sedunia....
(ngucapin delay, telat tiga hari)


Komentar