Langsung ke konten utama

Ketika Hal-hal yang Menyenangkan Didapat dari Para Bajingan



Siapa yang enggak setuju jika masa perantauan saat kuliah adalah masa paling sulit dilupakan? Jauh dari keluarga membuat perantau dekat dengan teman-teman kampus. Menemukan/membuat “keluarga” baru. Seperti ingin membagikan kisah-kisahnya agar abadi, dan juta untuk membongkar aib teman-temannya, Puthut Ea menuangkannya dalam bentuk tulisan berupa buku yang berjudul Para Bajingan yang Menyenangkan.


Puthut yang berkuliah di UGM dan mendapat teman baru, (alm) Jadek, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Meraka menjadi akrab karena hobi mereka yang sama, bermain judi.  “Kalau menang sok-sokan, kalau kalah berteori.” Secaras keseluruhan, novel ini menceritakan tentang kisah-kisah konyol dan jahil Puthut cs selama di Jogja. 


Suatu saat, saya dikasih tahu almarhum teman saya bahwa nanti malam kami akan main judi. Tugas saya memberi tahu Bagor. Siang itu juga saya ke wartel, menelepon Bagor.

“Tapi aku dijemput ya, Bung...”

“Lha kenapa?”

“Sepeda motorku rusak.”

“Kalau rusak dibawa ke bengkel, Bung.”

“Kalau soal itu, enggak usah nasihati aku, goblok!”

“Ya nanti aku nelpon Proton, aku suruh jemput kamu.”

“Itu juga enggak usah kamu kasih tahu. Aku ya bisa nelpon dia.”

“Lha terus kenapa enggak ditelpon?”

“Asal kamu ngerti ya, sekarang bulan Ramadan. Proton itu kalau datang ke rumahku, langsung klepas-klepus, ngerokok.”

“Lha salahnya di mana?”

“Lha ya bapakku nanti mengira aku enggak puasa.... Terus mesti ngira aku mbeling.”

“Hei, goblok, kamu kan memang enggak puasa. Fan kamu itu bukan cuma mbeling, tapi mbeling banget.”

“O asu! Pokoknya aku dijemput!”

“Ya!”

Telepon saya tutup. Kemudian saya memencet telepon rumah Proton.

“Bung, habis Magrib nanti kita judi di Mataram. Tolong kamu jemput Bagor ya, soalnya sepeda motornya sedang rusak.”

“Jam berapa?”

“Ya kalau bisa sekarang. Nanti kamu ajak dia ke rumah Kunthet. Ini aku langsung meluncur ke rumah Kunthet.”

“Oke. Beres!”

Telepon saya tutup. Saya meluncur ke rumah Kuthet. Sampai di sana sudah ada Almarhum dan Kunthet. Saya ceritakan apa yang barusan saya lakukan. Kami bertiga cekikikan.

Dua jam kemudian terlihat Proton memboncengkan Bagor. Muka Bagor mecucu. Mulutnya umak-umik melafalkan kata “asu” berkali-kali tanpa dengar. Kami bertiga pura-pura tidak ada masalah.

Setelah mereka berdua masuk kamar Kunthet, saya tanya, “Eh, aku lupa, bapaknya Bagor nanya kamu, Ton....”

“Lha tadi aku ketemu. Pas sampai, Bagor itu mandi aja belum. Jadi aku ngobrol sama bapaknya agak lama.:

“Iya. Kata bapaknya Bagor, kamu itu menyenangkan kalau diajak diskusi.”

“Ya tadi lumayang menyenangkan. Tapi bapaknya Bagor berhenti merokok ya? Aku tawari, dia enggak mau....”

Kontan tawa kami meledak. Proton dengan muka heran bertanya, “Ada apa?”

“Tanyalah si Bagor...”

Bagor yang mukanya merah langsung bilang, “Ton, bapakku itu Islam dan pengurus Muhammadiyah...”

“Pak likku juga Muhammadiyah, tapi ya ngrokok kok...”

“Wooo... bajingan... kamu ngerti enggak sekarang bulan puasa?”

Proton dengan muka datar menjawab, “O iya ding...”

(halaman 21)


Tema yang diangkat dalam novel ini ngehe­-in. Gimana nggak? Suka ngelakuin sesuatu yang dilarang secara moral dan agama Islam. Misalnya, judi dan makan daging babi. Belum lagi panggilan untuk teman-temannya yang main asal sebut. Seperti, “asu”, “goblok”, dan lain-lain. Oleh karena itu, novel ini dilabeli Novel Dewasa oleh Penerbit. Jadi, yang enggak kuat baca, mending enggak usah. Daripada terguncang nanti jiwanya. Hihihihihi.


Mbut, cah bajingan.....” Suaranya yang cempreng terdengar dari jauh. Terdengar agak bahagia. Mungkin THR plus bonusnya bisa untuk beli sirup Marjan satu kontainer dan sarung Gajah Duduk satu pikap.

“Piye?”

“Aku ki mau diundang pimpinanku.”

“Ha njuk ngapa? Meh munggah pangkat po?”

“Ho oh. Tahun ngarep.”

“Selamat ya....”

“Haaaa tapi ana masalah...”

“Lha nek pas ana masalah, ngomong aku. Nek pas seripahan ngomong aku, nek kondangan ngomong liyane.... Nek kerja bakti ngajak aku, nek resepsi ngajak liyane!”

“Asu. Meneng to.... Penting iki! Ternyata para pimpinanku karo kanca-kanca kantorku ki maca status-statusmu soal aku. Mereka ki terhibur.... Goblok to? Ha mung karo kowe kok terhibur?”
(halaman 152)


Alur yang digunakan agak berantakan. Bisa tiba-tiba ke masa sekarang, bisa tiba-tiba ke masa kuliah. Tapi tenang, karena penulisnya sudah biasa menulis, pembaca tidak merasakan “lompatan” itu. Sudut pandang pertama digunakan dalam novel ini. Ya, wajar lah ya... Lah, wong ini novel yang berkisah tentang kejahilan-kejahilan Puthut CS.


Pokoknya, novel ini cocok dibaca kalau lagi stres. Bakal bikin tambah stres, deh. Hihihihi. Bikin ketawa ngakak karen ulah jahil mereka. Hihihihi. Aku berani ngasih rating 8/10...




Suka sama ilustrasi di covernya, deh....

Judul : Para Bajingan yang Menyenangkan
Pengarang : Puthut Ea
Penerbit : Buku Mojok
Tahun terbit : 2017
Tebal halaman : 178 halaman
Rate (subjektif) : 8/10

Komentar