Langsung ke konten utama

Jadi Rela-Wati (Bagian 4): keREADta

Bangga Jadi Relawan. #AyoMembaca

Hari buku sedunia diperingati setiap tanggal 23 April. Tahun ini, Mei melakukan hal yang berbeda dari tahun sebelumnya. Jadi relawan keREADta. 

Daaannnn....kali ini Mei juga berhasil ngebujuk Desy, teman kerja sekaligus teman main Mei, untuk ikut gabung. Bujukannya dahsyat! Hihihihihi.

Wefie di gerbong kereta yang menuju tempat kumpul relawan keREADta. Pliiissss jangan fokus ke mata Mei yang merem, fokus ke sepatu yang Mei pakai aja....


Apa itu keREADta? keREADta adalah sebuah kampanye membaca di kereta yang sedang melaju. Jugejagejugejagejug... Kereta berangkat.....

Kampanye ini dilakukan pada minggu, 22 April 2018 di dalam gerbong kereta yang sedang melaju dari Stasiun Kota ke Stasiun Universitas Indonesia.

Mei berangkat dari rumah sekitar pukul 6.00 pagi. Karena tempat kumpul relawan di Stasiun Kota dan pukul 7.30 harus sudah sampai, Mei rela bangun pagi-berangkat pagi-tanpa sarapan. Perkiraan perjalanan dari rumah ke stasiun itu 20 menit, ditambah perkiraan nunggu kereta 10 menit, ditambah waktu yang dibutuhin untuk menempuh jarak Stasiun Depok Baru - Stasiun Kota sekitar satu jam, itu juga kalau enggak ada masalah. 

Benar aja, pukul 8.00 Mei baru sampai tempat tujuan. Setor wajah ke panitia, sekalian izin, "Kak, aku sarapan dulu, ya". Makaaannnnn.

Makan di pinggir jalan, sudah biasa bagi Mei. Makan di pinggir jalan depan Stasiun Kota, ini bukan kali pertamanya buat Mei. Tapi, sarapan di pinggir jalan depan Stasiun Kota, ini hal yang baru buat Mei. Nggak juga buat Mei, buat Dessy juga.
"Baru pertama kali ya, des?" terucap begitu aja.
"Iya, kak."
Dan kita memilih makan pecel... Yummy...
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yg kamu dustakan?

mie, pecel, gorengan... yummy....

Fokuslah ke bapak-bapak yang mengenakan liontin batu akik sambil menggendong botol air mineral, "di mana anakku, di mana anakku..."

Selesai makan, baliklah kita ke tempat kumpul. Di sini, kita di-briefing lagi tentang tugas relawannya. Tugas relawan hanya membaca bersama di dalam gerbong kereta tadi. Ini disebut dengan flashmob. Dilarang mengeluarkan gadget saat flashmob berlangsung. Makanya, Mei nggak punya stock foto bareng saat flashmob ini. Adanya, foto pencitraan yang dilakuin saat berangkat.
Brefing lagi. Mei lagi bergaya nggak engeh. Hihihihi
 
Jadi pusat perhatian dari pengunjung Stasiun Kota.


Ciyeeeee... sendirian aja, neng? Masih betah aja?

Saat flashmob, Mei bisa asyik terjun di dunia novel yang Mei baca, Entrok. Susana tenang, nyaman. Karena pada jam segitu (sekitar jam 10), kereta sepi. Ditambah Mei kebagian di gerbong satu. Sesekali Mei lihat sekeliling, lihat relawan yang lain, "ah, Mei nggak sendirian. Lanjut baca lagi."

Setelah itu, relawan akan mengikuti kelas sastra dan literasi. Ada Lima kelas, yaitu kelas literasi, jurnalistik, novel, puisi, dan blog. Lima-limanya sama-sama diisi oleh pemateri yang ahli di bidang-bidang tersebut. Mei? Mei ikut kelas blog. Afafifah Mazaya adalah pematerinya. Inti dari penjelasan Kak Afifah, ngeblog itu salah satu cara personal branding. Makanya, hati-hati dalam mebuat materi blog. Tentunya materi blog harus menarik jika ingin mempunyai banyak pembaca setia.


kami dari kelas blog....

Buat Mei, nulis mah nulis ajah atuh. Biar ilmu yang Mei dapat nggak ilang gitu aja. Udah, gitu aja.

Komentar