Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Masa Depan?

Siang hari saat nggak ada guru yang ngajar a.k.a jam pelajaran kosong, anak-anak sekelas menikmati angin yang berhembus di kelas ane, di lantai tiga setengah. Ane sebut tiga setengah setengah soalnya cuma ada lima anak tangga di lantai 3.  Sebenernya di sekolah ane ada dua gedung. Gedung SMK sama gedung SMP. Gedung SMK ada tiga lantai, gedung SMP ada empat lantai. Tapi lantai yang keempat gedung SMP itu buat SMK. Ane lagi menikmati angin sepoi-sepoi di teras kelas. Tiba-tiba temen ane yang namanya Nur, nyamperin ane. "Mei, kalo udah lulus lu mau kemana?" "Yang pasti sih, mei kuliah nur. Tapi nggak tau dimana. Emangnya nur sendiri mau kemana?" "Gue mah mau kerja di pt itu aja," kata Nur sambil nunjuk gudang minimarket yang ada di deket sekolah ane. "Emang kenapa mau kerja di sana?" "Ih, mei kan di sana karyawan cowonya cakep-cakep," "Oh, gitu ya nur..." jawab ane datar. "I...ye......

Menengok Si Kembar

Mempunyai anak bagi sebagian besar keluarga merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Begitu juga, yang dirasakan Babe. Dia telah dianugerahi dua orang putra dan kali ini dia juga dianugrahi lagi dua orang putra kembar. Betapa bahagianya dia. Hal itu terlihat dari pancaran cahaya yang menerangi wajahnya. Bayi kembar ini diberi nama Fauzan dann Fauzi. Entah bagaimana cara membedakan mereka berdua. Hingga sekarang pun, ane nggak bisa bedain mereka. Geng UP punya inisiatif buat ngejenguk si kembar di rumah Babe. Rumah Babe terletak di jalan Raya Centex Ciracas. Tepatnya, ane lupa kapan waktunya. Satu hal yang ane inget kita ke rumah Babe pakai baju bebas a.k.a bukan seragam sekolah. Kita janjuan ngumpul di depan sekolah.  Kita pun sempat berdebat tentang kendaraan yang mau kita naiki buat ke sana. Sebenernya sih, nggak perlu debat juga. Lah, kendaraan umum banyak hilir-mudik di hadapan kita. Namun, tetep geng UP bakal nyari cara ke sana dengan gratis :D ...

Rejeki Bersama

Guru-guru sedang rapat. Termasuk Babe sang guru kewarganegaraan. Entah apa yang mereka bahas dalam rapat tersebut. Hal yang ane tau pasti yaitu mereka pasti memutuskan hal yang terbaik buat para anak didiknya.  Setelah rapat selesai, Babe ke kantor guru sambil membawa makanan yang didapet dari rapat. Hal yang biasa kan kalau rapat pasti ada konsumsi? :D Septi adalah anggota geng UP yang pertama kali ngeliat Babe bawa makanan. "Eh, babe bawa apa tuh? Makanan ya be?" tanya Septi yang tiba-tiba muncul dihadapan Babe. "Ikutin ah…" kata Ketty sambil jalan. Bagaikan barisan bebek, anak bebek mengikuti induknya, begitu juga kita. Babe diikuti oleh Septi, Kety, Linda dan ane menuju kantor. Setelah sampai di kantor, kita ngeliat makanan yang dibawa Babe. Sebuah kotak makan yang berisi dua ayam goreng, satu cup nasi, sama satu botol minum. "Ini neng, babe nggak suka," "Ya elah, be…makanan enak gini nggak doyan," kata Linda merem...

Mangga Colongan

Waktu itu lagi musim pohon mangga berbuah. Geng UP yang seneng makan rujak nggak akan ngelewatin musim mangga berlalu gitu aja. Cuman masalahnya diantara kita berempat nggak ada yang punya pohon mangga. Geng UP berpikir gimana caranya ngerujak mangga tanpa ngeluarin uang a.k.a gratis. " Eh, di deket rumah nda ada pohon mangga. Yang punya nggak ada alias rumahnya kosong," kata Linda, mengawali percakapan. "Ih, mau nyolong mangga ya?? Jangan nanti abis makan ntu mangga sakit perut," kata ane, nggak setuju. "Ayo, nda! Kita ambil aja," kata Ketty yang setuju dengan Linda. "Yeh, dibilangin malah begitu. Ya udah mei nggak tanggung jawab. Mei nggak mau makan mangganya," "Ya udah," kata Septi mengakhiri. "Ket, nanti lu yang manjat ya. Gue yang nangkep mangganya," kata Linda yang sedang mengatur strategi. "Ah! Lu mah nda!" kata Ketty tidak setuju. Kemudian ia lihat teman-temannya yang sama sekali nggak ad...

Bunyi Apa Tuh?

Salah satu hal yang dilakukan geng UP adalah ngumpul di teras depan kelas. Ane, Kety, dan Septi duduk di anak tangga paling atas. Sementara itu, Linda berdiri di seberang tangga. Ane duduk di anak tangga ke-10, Ketty duduk di anak tangga ke-12, sedangkan Septi duduk di anak tangga ke-15. Kita lagi asyik bercanda sekaligus main kata-kataan persis kayak anak kecil. Tiba-tiba dari arah belakang kita, temen ane sebut aja namanya Badu, dateng kemudian jongkok. "Ssssttttt....Jangan berisik," kata Badu memperingatkan. Sontak kita diam, ngikutin perkataan Badu.  "Pasti ada sesuatu yang penting disampein," pikir ane. Tiba-tiba terdengar suara aneh.  "Tuuuut…."  Ane, Septi, dan Ketty langsung saling pandang. Seakan-akan sudah berjanjian, kemudian kami melihat Badu.  1 detik... hening 2 detik... hening 3 detik... hening "Hahahahahaha," Kita berempat langsung ketawa cekakakan sambil menjauh dari tangga. "Badu!!...

Sebungkus Untuk Berlima

Babe adalah salah satu guru yang ngajar ane. Nama aslinya adalah *sensor* (Maaf, nama aslinya ane samarin. Ini ane lakuin demi kelangsungan hidup ane.). Beliau mengajar Kewarganegaraan dan IPS. Dia juga wali kelas ane selama dua taun. Jadi, wajar aja kalo ane, Ketty, Linda, dan Septi (sahabat ane di SMK) deket banget sama dia. Dia baek baget ama ane.  "Nih, si mei mau bapak manjain ah. Lagian kasian bapaknya jarang ada di rumah.” kata dia ke ane karena emang ayah ane kerja di luar kota. Pernah suatu pagi saat anak-anak yang lain sibuk belajar di kelas, tapi kelas ane udah istirahat. Ane ama temen-temen ane (Linda, Septi, Ketty kita bergabung dalam geng UP singkatan dari Under Pentium. Kebayang kan gan betapa lemotnya kita.) ke kantor guru. Ternyata ada Babe yang lagi asyik sarapan pake nasi uduk. "Lagi makan apa be??" tanya Linda berbasa-basi. "Makan nasi uduk, neng," "Cobain ah, nasi uduknya," kata Ketty sambil nyomot kerupuk. ...

Saat Fungsi Materai dan Perangko Tertukar

Mungkin bagi sebagian orang, kantor pos adalah tempat yang biasa-biasa aja, nggak ada istimewanya. Namun, nggak bagi ane, kantor pos adalah tempat yang nggak pernah bisa ane lupain. Kenapa? Karena di sanalah harga diri ane turun akibat perbuatan temen ane yang malu-maluin. Berawal dari perintah ibu ane buat ane ngirim dokumen lewat kantor pos. Daripada ane disebut anak durhaka, mendingan ane turutin perintahnya. Ane ke kantor pos pas pulang sekolah dianterin dua orang sahabat ane, Linda dan Ketty. Kebetulan jarak kantor posnya nggak jauh dari sekolah ane. Jujur ini adalah kali pertama ane ke kantor pos. Ternyata, kedua temen ane juga sama kayak ane, baru pertama kali ke kantor pos. Dengan modal nekat tanpa pengalaman, kita jalan ke kantor pos.   Saat udah nyampe kantor pos, ane liat kesekeliling. Banyak orang hiruk-pikuk di depan ane, ada yang lagi duduk, ada yang lagi ngantri, ada juga yang lagi jongkok karena nggak kebagian tempat duduk. Ra...