Langsung ke konten utama

Menengok Si Kembar

Mempunyai anak bagi sebagian besar keluarga merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Begitu juga, yang dirasakan Babe. Dia telah dianugerahi dua orang putra dan kali ini dia juga dianugrahi lagi dua orang putra kembar. Betapa bahagianya dia. Hal itu terlihat dari pancaran cahaya yang menerangi wajahnya.

Bayi kembar ini diberi nama Fauzan dann Fauzi. Entah bagaimana cara membedakan mereka berdua. Hingga sekarang pun, ane nggak bisa bedain mereka.

Geng UP punya inisiatif buat ngejenguk si kembar di rumah Babe. Rumah Babe terletak di jalan Raya Centex Ciracas.

Tepatnya, ane lupa kapan waktunya. Satu hal yang ane inget kita ke rumah Babe pakai baju bebas a.k.a bukan seragam sekolah. Kita janjuan ngumpul di depan sekolah. 

Kita pun sempat berdebat tentang kendaraan yang mau kita naiki buat ke sana. Sebenernya sih, nggak perlu debat juga. Lah, kendaraan umum banyak hilir-mudik di hadapan kita. Namun, tetep geng UP bakal nyari cara ke sana dengan gratis :D

Cukup lama kita hanya berdiri di pinggir jalan dekat dengan lampu lalu lintas. Menolak semua tawaran sopir angkot buat naek. Ane pun udah ngerasa capek buat geleng kanan-kiri. Tiba-tiba saat lampu merah menyala, di hadapan kita ada bus bertuliskan PT. C*ntex.

"Itu bis karyawan PT. C*ntex," kata ane sambil nunjuk bisnya, "Kita naek itu aja," lanjut ane.

Terjadilah peristiwa saling pandang antara ane, Linda, Septi, dan Ketty.

"Bang, bisnya mau kemana?? Ke Ciracas ya??" teriak Ketty.

"Ya iyalah, Ket! Emang dikira mau kemana?" jawab Linda tebar pesona, siapa tau ada yang terpesona dengan Linda.

"Lah, kirain gue kan dia mau muter, nda. Kan itu mobil jemputan," Ketty ngeles.

"Udah ayo, neng. Mau ikut kagak?" kata salah seorang laki-laki yang berada di dalam bus. Sepertinya sih, laki-laki tersebut adalah karyawan dari PT tersebut. Terlihat dari seragam yang ia kenakan.

Tanpa ba-bi-bu lagi, kita (geng UP) naek bus itu. Lumayan ada gratisan ditambah kita emang nggak tau jalan Raya Centex dimana. 

"Ih, abangnya baek banget. Gue kedepin, ah," seru Linda sambil memainkan matanya persis seperti anak kecil kalau ditanya "Mata genitnya mana?"

"Ih, nda! Genit amat sih, nda!" kata Ketty.

"Dia mah, abang-abang juga doyan," Septi ikut bicara

Ane cuma bisa pasang senyum kuda, ngeliat kelakuan temen-temen ane yang aneh. 

Selama perjalanan, kita pun bercanda-canda. Mulai dari ngeledekin betis Linda yang gede, ngebayangin anaknya Babe, sampe ngegodain cowo yang lewat. Tak terasa, perjalanan terasa sangat cepat. Kita pun sampai di depan gerbang PT. C*ntex.

Gerbang di buka, bus pun bakal masuk ke gedung PT tersebut.

"Lah, bang, kita mau dibawa kemana nih? Kita mau turun. Ntar pacar kita gimana?" kata Linda agak panik tapi tetep aja ada canda.

"Lah, neng, kirain mau ikut masuk ke dalem," kata sopir bus.

"Ya, nggak lah, bang," kata Septi

"Terima kasih ya, bang," kata ane sambil turun dari bus.

Kita menuju pinggir jalan buat diskusi lagi mau ke arah mana (Lah iya kali diskusi di tengah jalan, yang ada geng UP dimaki-maki sama pengguna jalan). Diskusi berjalan dengan alot, akhirnya ane telepon Babe.

"Asalamualaikum, Be, rumah babe yang mana?"

"Waalaikumsalam. Udah neng jalan aja terus,"

"Jalan terus ke mana, Be?"

"Lurus aja neng. Kan cuma ada satu jalan,"

"Iya deh, Be. Ini jalan lurus ya, Be,"

"I...ya...,"

Dari jauh terlihat sosok pria kecil memakai baju putih sambil melambaikan tangannya. Yups! Itu adalah Babe. Telepon pun anetutup.

"Oh, rumah Babe ini, Be?" tanya Ketty.

"Lah, iya, neng. Emang yang mana?"

"Banyak mobil di luar, Be. Mobil babe yang mana?" tanya Ketty lagi

"Kagak ada, neng," jawab Babe singkat.

"Lu  mah, ket, nanya, ngeledek, apa ngehibur?" sindir Linda.

"Ya begitu dah,"


Kita diajak masuk ke rumah nya dan ngeliat si kembar. Ada hal yang bikin ane hopeless, si Linda suka sama anak pertama Babe, pake minta disalamin lagi. Inger umur, nda.

"Gila lu, nda! Brondong lagi! Krisna nggak cukup apa?!" sindir Septi sambil mengingatkan mantan Linda, Krisna, yang berumur 1 tahun lebih muda dari Linda.

"Wah nda sukanya sama yang berondong nih. Umurnya lebih muda," kata Ketty menggoda Linda.

"Lu liat, dong, betapa manisnya muka dia," kata Linda sambil mengingat wajah anak pertama Babe yang lebih muda dari kita sekitar 2 tahun.

"Inget umur, nda. Nda itu paling tua diantara kita ber4," kata ane, mengingatkan.

"Ya Allah, emak. Cuma beda beberapa bulan juga," Linda membela diri.

"Tetep aja lu tua. Buktinya lu ama gue aja jauh," ledek Ketty.

"Ya udah, sih. Lagian juga gue paling seksi diantara kalian," Linda masih membela diri.

"Seksi??? Pinggul sama betis gede aja dibilang seksi," kata ane, tidak percaya akan ucapan Linda yang katanya seksi itu.


"Udah, udah, Babe udah manggil tuh," kata Septi mengakhiri perdebatan.

Akhirnya, kita nyamperin Babe.

"Sini, neng! Nih liat foto Babe. Ganteng kan??" kata Babe sambil nunjukin album foto pernikahannya.

"Segini ganteng be?" kata Ketty kebingungan.

"Ini dulu babe paling ganteng sekampung nih," Babe ngasih penjelasan.

"Segitu ganteng, Be? Gantengan juga anak Babe. Salamin ya be," kata Linda yang tetep aja mencari kesempatan.


"Yah, mulai lagi," kata ane sambil mencibir.

"Be, bis karyawan pulang jam berapa?" tanya Linda.
 

"Emang kenapa neng?" Babe nanya balik.

"Kan tadi kita ke sini naek bis karyawan," jawab Septi sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk "V".

"Ya ampun, neng. Nyari gratisan mulu. Emang nggak dikasih uang jajan apa ama emaknya?"

"Ya dikasih, Be. Tapi kan kita mau jajan juga." jawab Ketty polos.

"Ya udah nanti babe kasih!"

"Berapa, be?? 20 ribu ya kan buat kita berempat. Jadinya masing 5 ribu," kata Ketty sambil memainkan jurus andalannya, jurus mata Sinchan.
 

"Kagak! seribu aja,"

"Seribu??? Nyampe mana??" Septi kaget.

"Babe lu tuh, mei. Gue nggak mau ngakuin Babe, kalo begitu," kata Linda.

"Tau nih, be. Makanannya mana nih be??" ane mengalihkan pembicaraan.

"Ya bentar,"

Makanan pun tersedia di hadapan kita. Tetep dong, rekor makan terbanyak dipegang oleh ane.


"Ya elah, ini badan kecil makannya banyak baget. Septi aja yang badannya gede makan sedikit." ledek Linda.

"Udah biasa, nda. Lu mah lebay banget sih," Ketty ngebela ane.

"Orang laper, nda,"

"Laper ya laper emak! Tapi nggak gini juga. Kan malu sama istrinya," Linda terus mencecar.

"Cuek aja. Kan makanan disuguhin buat dimakan," Ketty emang malaikat pelindung ane, dia masih aja ngebela ane.

"Kalian berdua mah sama aja," kata Linda.

"Udah lah, udah abis mau diapain lagi," Septi lagi dan lagi menengahi kita.

Setelah makanannya abis, kita pun izin pulang. Bener-bener malu-maluin.

"Be, kita pulang ya?" kata ane.

"Ya elah, neng, abis makan langsung pulang,"

"Lah iya, Be, emang mau ngapain lagi?" tanya Ketty.

Kita berempat pulang dan nggak naik bus karyawan lagi. Soalnya kita nggak tau kapan ntu bus keluar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.