Langsung ke konten utama

Saat Fungsi Materai dan Perangko Tertukar

Mungkin bagi sebagian orang, kantor pos adalah tempat yang biasa-biasa aja, nggak ada istimewanya. Namun, nggak bagi ane, kantor pos adalah tempat yang nggak pernah bisa ane lupain. Kenapa? Karena di sanalah harga diri ane turun akibat perbuatan temen ane yang malu-maluin.

Berawal dari perintah ibu ane buat ane ngirim dokumen lewat kantor pos. Daripada ane disebut anak durhaka, mendingan ane turutin perintahnya.

Ane ke kantor pos pas pulang sekolah dianterin dua orang sahabat ane, Linda dan Ketty. Kebetulan jarak kantor posnya nggak jauh dari sekolah ane. Jujur ini adalah kali pertama ane ke kantor pos. Ternyata, kedua temen ane juga sama kayak ane, baru pertama kali ke kantor pos. Dengan modal nekat tanpa pengalaman, kita jalan ke kantor pos.
 
Saat udah nyampe kantor pos, ane liat kesekeliling. Banyak orang hiruk-pikuk di depan ane, ada yang lagi duduk, ada yang lagi ngantri, ada juga yang lagi jongkok karena nggak kebagian tempat duduk. Rame banget dah pokoknya, ampe pasar aja kalah ramenya atau pasarnya pindah ke sini? 

"Mungkin sekarang masih tanggal muda, jadi banyak orang yang lagi ngambil uang pensiunan." pikir ane.
 
Budaya antre pun ane terapkan. Ditemeni oleh Linda yang berada di belakang ane, ane pun mengantre. Sementara itu, si Ketty, kucing yang tidak bisa diam ini, jalan-jalan mengeksplor kantor pos.

Lagi asyik-asyiknya ngantri, si Ketty nanya ke ane sambil teriak dengan mimik wajah yang jutek dan sombong, tidak lupa juga kedua tangannya dilipat di depan dada. Persis kayak debt collector yang mau nagihin utang.
 
"Mei, lo nggak beli materai?" tanya Ketty dengan wajah sedikit menengadah.

"Materai? Buat apaan?" tanya ane dengan bingung.

"Ya buat kirim surat lah. Tuh liat ada tulisannya 'di sini jual materai'". jawab Ketty dengan nada orang yang paling tau.

"Astagfirullah... yang buat ngirim surat itu perangko, ket. Bukan materai." Kali ini Linda ikut bicara.

"Emang iya mei?" tanya Ketty ke ane seakan-akan dia nggak percaya dengan omongan Linda.

"i...ya..." jawab ane sambil menepuk jidat ane.

"Ih...maklum aja apa. Kan Ketty baru pertama kali ke sini." kata Ketty dengan wajah tampa dosa seperti bayi yang baru terlahir ke dunia.

Orang-orang yang ada di kantor pos tertawa cekakakan mendengar omongan kami. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang lagi ngantri berdiri di belakang Linda.

"Temennya ya??" tanyanya ke ane dan Linda sambil menunjuk ke Ketty dengan matanya.

"Iya mas. Maaf ya mas, dia emang suka malu-maluin." jawab Linda dengan wajah yang merah karena malu.

"Iya nggak apa-apa." kata si laki-laki sambil senyum menahan ketawa.

Aduh! Ane sama Linda ngerasa malu banget di situ. Pengennya sih, di saat itu, pura-pura nggak kenal Ketty. Namun, apa daya. Kita pake baju batik seragam sekolah yang pasti sama. Tanpa dikasih tau, orang-orang akan tau kalo kita saling kenal.

Akhirnya ane ama temen ane keluar juga dari tempat yang bikin harga diri ane jatoh. Saat di jalan, kita tertawa cekakakan nggak berenti-berenti. Kemudian, kita putuskan untuk putus hubungan dengan nyamuk. Eh, salah. Kita putuskan buat mampir dulu ke sekolah. 

Kita cerita tentang kejadian yang baru aja dialami ke Babe (seorang guru Kewarganegaraan). Eh, dia ikut tertawa cekakakan.

“Makanya neng, kalo kemana-mana jangan ngajak Ketty. Dia kan malu-maluin”. komentar dia setelah kita cerita.

Ane ama Linda tambah ketawa geli sampe guling-gulingan di lantai (yang ini berlebihan).

Komentar