Waktu itu lagi musim
pohon mangga berbuah. Geng UP yang seneng makan rujak nggak akan
ngelewatin musim mangga berlalu gitu aja. Cuman masalahnya diantara kita
berempat nggak ada yang punya pohon mangga. Geng UP berpikir gimana
caranya ngerujak mangga tanpa ngeluarin uang a.k.a gratis.
"Ih, mau nyolong mangga ya?? Jangan nanti abis makan ntu mangga sakit perut," kata ane, nggak setuju.
"Ayo, nda! Kita ambil aja," kata Ketty yang setuju dengan Linda.
"Yeh, dibilangin malah begitu. Ya udah mei nggak tanggung jawab. Mei nggak mau makan mangganya,"
"Ya udah," kata Septi mengakhiri.
"Ket, nanti lu yang manjat ya. Gue yang nangkep mangganya," kata Linda yang sedang mengatur strategi.
"Ah! Lu mah nda!" kata Ketty tidak setuju. Kemudian ia lihat teman-temannya yang sama sekali nggak ada bakat manjat pohon. "Iya dah," lanjutnya.
"Entar gue yang ngamanin situasi. Lu manjat aja ket," ucap Septi.
Akhirnya, Linda, Ketty, dan Septi jalan menuju tempat operasi. Ane nunggu di rumah Linda. Mereka nggak lupa bawa kantong plastik yang gede buat naro mangganya.
Setelah nunggu beberapa lama, akhirnya mereka dateng bawa 5 buah mangga. Trus, ane diceritain proses ngambil tuh mangga.
"Bu, minta mangganya ya?" kata Linda meminta izin sama yang punya pohon mangga, padahal rumah ntu kosong.
"Iya dek ambil aja," jawab Septi, seakan-akan dia yang yg punya rumah dan pohon mangganya.
"Hahahaha,"
Manjatlah si Ketty ngambil 5 mangga.
"Udah cukup ket. Ini udah banyak. Kasian tetangga kita nanti nggak kebagian nyolong," kata Linda.
"Nda mah bikin gue lemes di sini. Entar gue nggak bisa turun nih!" kata Ketty yang masih di atas pohon.
"Udah cepetan nanti keburu ada orang!"
Akhirnya mereka pulang jalan dengan setengah lari. Soalnya di sekitar TKP lagi ada bapak-bapak keluar dari rumahnya.
Linda yang bikin bumbunya. Septi yang ngupas mangganya. Ane sama Ketty? Jangan ditanya. Pasti kita ini cuma bisa bantu dengan doa a.k.a diem aja.
"Ini udah jadi bumbunya," kata Linda sambil ngasih sepiring bumbu rujak.
"Enak nih emak!" ucap Septi sambil makan rujak.
"Bener cunt! Tapi pedes," kata Ketty, setuju dengan ucapan Septi.
"Siapa dulu dong yang bikin? Gue gitu! Pake goyang pinggul nih bikinnya," Linda memberi penjelasan sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Wah nggak enak nih! Nggak jadi! Nggak jadi!" Ketty terkejut.
"Udah emak, makan enak kok," bujuk Septi
"Nggak bakal sakit perut kan tadi nda udah minta," tambah Linda untuk meyakinkan ane.
Ane masih tetep sama pendirian ane. Ane cuma bisa ngeliatin mereka makan rujak. Pada sibuk mereka makan sambil ngegodain ane biar tergoda makan rujak. Akhirnya ane luluh. Mangga dan bumbu rujaknya bilang gini “Ayo! Makan aku….”
Ane cobain tuh rujak. Asli enak banget. Sama enaknya sama masakan buatan ibu ane. Ane jadi ketagihan. Eh, ternyata malah ane yang makan paling banyak.
"Eh, tadi yang ngomong nggak mau makan mangga katanya takut sakit perut," ejek Linda.
"Jiah, paling banyak dia makan," tambah Septi.
"Udah biasa…bagen…" Ketty memaklumi ane.
Ane cuma nyengir-nyengir kuda. Ane berkesimpulan bahwa (ya elah segala pake bahwa) mangga yang didapatkan dengan hasil menyolong lebih enak 10x lipat dari yang didapatkan dengan hasil membeli. Hahahaha.
Catatan : ane dan geng UP minta maaf buat yang punya pohon mangga yang diambil. Maaf seribu maaf dan terima kasih.
Komentar