Langsung ke konten utama

Hmm..

Menulis memang sangat banyak manfaatnya, seperti yang sangat Mei rasakan beberapa tahun belakangan ini, sebagai media penyembuhan. Ada satu manfaat menulis yang baru aja Mei rasain. Punya "bank" pikiran atau kejadian. Ini Mei sadari saat Mei membaca kembali tulisan-tulisan Mei.

"Astagfirullah.... Mei pernah se-koplak ini walaupun sekarang sama aja,"

"Mei yakin yang nulis ini bukan Mei nih,"

"Wah, gimana kabar mereka, orang-orang yang Mei ceritakan kisahnya,"

dan berbagai kalimat yang keluar begitu aja saat membaca tulisan-tulisan Mei yang dulu. Semua itu dibungkus dengan paket lengkap rasa, rindu.

Rindu diri Mei yang dulu, yang enggak perlu pusing mikirin bayar, yang enggak punya banyak pikiran/masala, hal yang bisa dilakuin adalah bernapas dan tidur nyenyak.

Rindu pemikiran Mei yang dulu, yang polos, yang mudah menuliskan apa saja yang terjadi. Sekarang, kalau mau nulis, mikir-mikir dulu. Khawatir ada yang tersinggung. Khawatir diri Mei tercermin dengan sangat jelas lewat tulisan itu. Ya, begitu lah.

Rindu mereka, teman-teman Mei yang menjadi "tokoh utama" dalam tulisan-tulisan Mei.

Mei bahas tentang rindu yang ketiga ya. Karena Mei sudah tahu solusi dari rindu yang ketiga, ketemu mereka. Biasa Mei lakuin kalau senggang atau Mei butuh refreshing. Tapi, saat bertemu mereka, sekarang terasa lain. Mungkin karena latar belakang kami sudah sangat berbeda. Sulit menemukan bahan obrolan. Akhirnya, obrolan hanya bersifat mengenang masa lalu, keluarga bagi yang sudah berkeluarga, dan ngomongin orang. Rujak di depan jangan ketinggalan ya.... Hihihihi.

Ngomongin orang bagi sebagian besar cewe itu menarik banget. Bergosip, bergunjing, atau apa pun itu sebutannya. Hal ini juga baru Mei sadari beberapa bulan belakangan ini. Saat berkumpul teman lama, kehabisan bahan obrolan, mulai memainkan ponsel masing-masing, Mei mulai perkataan, "Jadi, siapa yang mau kita omongin,". Parah? Memang. Tapi, akhirnya kita mulai ngobrol lagi. Tambah seru! Hihihihi

Jadi, ada beberapa simpulan nih...
  1. Menulislah. Entah tulisan apa pun itu. Misalnya, kejadian yang udah dilewati, perasaan yang terpendam, dan lain-lain. Bebas mau kalian publish atau enggak. Tapi, Mei saranin publish tulisan yang memang pantas untuk dipublish ya... Inget, lewat tulisan kita, kita bisa dinilai orang yang seperti apa. Ini yang bikin Mei males buat nulis sebenernya. Hihihihi.
  2. Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas. Mei pinjam judul buku karya Mas Eka, karena Mei rasa judul buku itu tepat. Cari cara untuk menuntaskan rindu. Misalkan dengan bertemu. (Minggu besok, Mei akan ketemu mereka! Ayey!!)
  3. Saat kehabisan bahan obrolan, mulailah dengan pertanyaan, "jadi, siapa yang mau kita omongin?", itu bakal bikin obrolan kalian lancar lagi. Hihihihihi


Salam hangat 

Mei yang tengil kalau lagi mood

Komentar