Langsung ke konten utama

Berhenti Sekolah

Masih terekam jelas di otak kita peristiwa tentang dukun cilik Ponari, bukan? Peristiwa dukun cilik ini pun masih ane inget. Tumben, biasanya sering lupa. Kenapa hal ini ane inget? Karena hal ini berkaitan dengan perkataan ibu ane. Ya. Perkataan ibu ane yang seringkali dalem a.k.a menyakitkan hati. Weits, tenang aja. Ada pengaruh positifnya kok punya ibu seperti ini, ane jadi kebal sama kata-kata dalem.

Percakapan ini terjadi saat sore hari. Saat ane masih kelas 2 SMK. Ane dan Ibu ane lagi asyik nonton tv di ruang tengah. Eh, trus liat berita tentang penghasilan si dukun cilik Ponari. Seperti yg kita tau, emang penghasilannya nggak bisa dibilang kecil.

"Lin, kamu nggak usah sekolah aja deh," Ibu ane ngajak ane ngobrol dengan memulai menyapa ane dengan panggilan 'Lina'.

"Lah, kenapa mah?? Lina kan mau terus sekolah. Lina kan mau gapai cita-cita lina," tanya ane yang nggak nyangka ibu bakal nanya begitu.

"Udah, kamu nggak usah sekolah aj. Mendingan Nyari batu aja gih! Siapa tau bisa jadi kayak Ponari! Kan dia jadi kaya sekarang,"

Tiba-tiba suasana hening. Ane berusaha mencerna perkataan ibu.


Akhirnya, ane bisa menangkap pesan yang dikomunikasikan ibu.

"Mama...," ane cuma bisa merengek.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.