Membedakan kakak dengan adik itu adalah hal yang mudah. Karena biasanya, banyak perbedaan antara kakak dengan adik, mulai dari umur hingga sifat. Namun sepertinya, hal ini tidak berlaku di dalam keluarga ane. Padahal jelas-jelas, umur ane dengan Ais, ade ane, berbeda 11 tahun. Entah karena sang kakak, ane, sering berperilaku dan berkata seperti anak kecil atau karena Ais, sering berperilaku dan berkata seperti orang dewasa.
Ini adalah salah satu perkataan Ais yang, begitu deh...
Bermula dari saudara
ane, lebih tepatnya Mas, nunjukin rekaman saat dia nikah. Dia sengaja nunjukin soalnya
keluarga ane nggak bisa dateng ke acara pernikahannya. Lagi asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba....mati listriknya. Bukan. TV-nya meledak. Juga bukan. Tiba-tiba Ibu ngomong hal yang nyindir ane.
"Tau nih, yang ini disuruh nyari, malah nggak dapet-dapet," sindir Ibu dengan menunjuk ke arah ane dengan matanya.
"Tau nih, yang ini disuruh nyari, malah nggak dapet-dapet," sindir Ibu dengan menunjuk ke arah ane dengan matanya.
"Iya nih! Kayak bocah sih!" seru Ais yang langsung nyamber kayak api kena bensin.
Ane diam, geming, speechless, nggak bisa berkata apa-apa. Kalau pake kamus ane mah, istilahnya, kicep. Hehehehe.
Perasaan ane jadi campur aduk. Marah, kesel, kagum, kaget, dan lucu, semua jadi satu. Sampai akhirnya ane bingung harus bersikap dan berkata apa.
"Kepikiran ya, anak sekecil itu kata-kata itu," kata ane dalam hati.
Hal ini merupakan ebuah penghinaan bagi
ane. Dikatain “bocah” sama seorang bocah. Masih mending dikatain “bocah”
sama orang yg lebih tua dari ane. Ya. Kata-kata Ais, cukup
nyerempet perasaan ane.
"Sabar, sabar, biar perut tambah lebar," ane mencoba menghibur diri sambil mengelus lampu ajaib Aladin. Eh, salah. Maksudnya sambil mengelus jantung.
Komentar