Langsung ke konten utama

Cari Emak yang Lain Aja

Suatu hari saat siang, seperti biasa, anak-anak TKJ2 mencari angin yg sepoi-sepoi di lantai tiga setengah.

Ternyata, temen ane Idin, begitulah ane biasa panggil dia, lagi kesemsem sama ade kelas yang namanya Riani. Ane enggak setuju kalo Idin jadian sama Riani. Soalnya ane udah tau, Riani bisa buat pacarnya berubah 180 derajat. Makanya ane nggak setuju. Lagi juga dia cuma ngincar hartanya Idin (Idin emang bisa dibilang orang tajir. Di kelas aja, dipanggil "boss"). Nah, kelas Riani lagi ada di sebelah kelas ane. Lagi pada ngumpul di teras depan kelas. Pokoknya
keadaan saat itu rame deh.

"Idin! Kalo Idin jadian sama dia, cari aja emak yang laen!" kata ane mengultimatum Idin sambil nunjuk Riani. Oia, ane emang dipanggil emak sama temen-temen ane karena ane bawel banget.

Ane sadar. Saat itu, ane ngomong dengan suara keras. Soalnya ane liat orang-orang di sekitar ane pada nengok ke ane. Termasuk Riani, cewe yang ane tunjuk. Riani cuma bisa nundukin kepala. Akhirnya ane masuk kelas aja sambil ngambek. "Yah... Emak..." kata Idin dengan lirih. "Makanya, Din, cari emak yg laen aja gih. Noh ada Nur, si Enyak," Linda menghibur Idin. "Kagak ah! Gue enggak mau nyari emak yang laen. Kapan lagi gue punya emak yang pinter kayak dia. Pinter matematika, pinter fisika, pinter bahasa Indonesia. Segalanya bisa deh," "Ya udah terserah lu kalo gitu,"
Akhirnya, Idin nyamperin ane. Dia jongkok di depan meja ane. Persis banget kayak anak minta maaf sama emaknya.



"Iye…deh, mak. Idin nggak bakal deket-deket sama Riani lagi,"

"Hehehehehe gitu dong, din. Dengerin kata emak,"

"Iye, mak,"

Ada yg bilang kalo ane kejam ngelakuin hal itu ke Idin. Padahal sebenernya ancaman ane cuma bercanda. Dia nganggepnya serius. Ane bingung, kenapa Idin ngikutin kata-kata ane ya?? Tapi nggak apa-apa sih, dia nggak jadi diplorotin sama cewe itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.