Langsung ke konten utama

Bunyi "CESS"

Mata kuliah Penulisan 2 kali ini ngebahas tentang pengembangan paragraf yang beruntun.

"Ayo, coba belajar menceritakan kejadian secara runtun. Apa yg adik-adik sekalian lakukan jika sudah pulang dari kampus?? Coba bembi jawab..." tanya dosen ane yang cantik dan baik hati seperti bidadari turun dari khayangan.


"Tidur, bu!" Bembi menjawab dengan logat betawi-nya.

"Coba Toni…" tanya dosen ane lagi ke mahasiswa lain, Toni.

"Saya akan berkunjung ke rumah teman saya," Toni menjawab dengan jelas dan padat.

"Coba Angga…"

"Ke rumah temen saya, bu." jawab Angga singkat.

"Nah, kita sendiri bisa denger kan, mana jawaban yang paling tepat struktur kalimatnya…" Dosen ane memberikan penjelasan. "Coba toni maju, ceritakan apa yg akan kamu lakukan ketika pulang dari kampus," lanjutnya.

"Bener nih bu, saya maju?" tanya Toni untuk meyakinkan.

"Iya,"

Tiba-tiba temen ane, nama panggilannya Ical, duduk paling depan menengok ke belakang. Memutarkan kepalanya hampir 180 derajat.

"Maunya sih sampe di rumah ada bunyi 'ces'," kata Ical dibarengi dengan tangannya yang meragain iklan minyak goreng.

Ternyata, dosen ane denger perkataan ical. Akhirnya dia yg disuruh maju.

"Coba kamu ceritain tadi,"

"Yang barusan bu???" Ical tidak yakin.

"Iya yang barusan,"

"Saya bercerita kepada Novian. Hal yang ingin saya lakukan ketika pulang dari kampus. Saya tuh inginnya ada bunyi 'ces' " Ical memberikan penjelasan tidak lupa juga ekspresi wajahnya mirip dengan anak kecil yang sebagai model di iklan minyak goreng.

Sontak, orang-orang sekelas ketawa semua gara-gara ngeliat ekspresi Ical. Termasuk dosen ane. Ical cuma senyum-senyum, rela diketawain.

"Lanjutkan,"

"Sesampainya saya di rumah, saya mendengar ada bunyi 'ces',"

Suasana kelas jadi makin ramai gara-gara kelakuan Ical.

"Saya kemudian ke dapur untuk mengetahui penyebab bunyi 'ces' tersebut. Saya ke dapur naik ojek dua kali,"

Tambah berisik oleh suara tertawa para mahasiswa.

"Emang dapurnya sejauh mana? Sampe naik ojek dua kali?"

"Hehehehehe, yang kata naik ojek tadi di apus, Bu. Nggak jadi,"

"Oh, ya…boleh...boleh…"

"Saya kemudian menemukan ibu saya yg sedang memasak. Ternyata bunyi tersebut adalah bunyi masakan yg sedang digoreng,"
 
"Oh, bunyi masakan ya…kamu boleh kembali duduk," kata dosen ane. "Kita sendiri bisa menyimpulkan kalau bunyi 'ces' itu adalah bunyi masakan. Kasih tepuk tangan buat Ical," lanjut dosen ane.

Ical pun kembali ke tempat duduknya diiringi dengan suara tawa dan tepukan tangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.