Mata kuliah Penulisan 2 kali ini ngebahas tentang pengembangan paragraf yang beruntun.
"Ayo, coba belajar menceritakan kejadian secara runtun. Apa yg adik-adik
sekalian lakukan jika sudah pulang dari kampus?? Coba bembi jawab..." tanya dosen ane yang cantik dan baik hati seperti bidadari turun dari khayangan.
"Tidur, bu!" Bembi menjawab dengan logat betawi-nya.
"Coba Toni…" tanya dosen ane lagi ke mahasiswa lain, Toni.
"Saya akan berkunjung ke rumah teman saya," Toni menjawab dengan jelas dan padat.
"Coba Angga…"
"Ke rumah temen saya, bu." jawab Angga singkat.
"Nah, kita sendiri bisa denger kan, mana jawaban yang paling tepat struktur kalimatnya…" Dosen ane memberikan penjelasan. "Coba toni maju, ceritakan apa yg akan kamu lakukan ketika pulang dari kampus," lanjutnya.
"Bener nih bu, saya maju?" tanya Toni untuk meyakinkan.
"Iya,"
Tiba-tiba temen ane, nama panggilannya Ical, duduk paling depan menengok ke belakang. Memutarkan kepalanya hampir 180 derajat.
"Maunya sih sampe di rumah ada bunyi 'ces'," kata Ical dibarengi dengan tangannya yang meragain iklan minyak goreng.
Ternyata, dosen ane denger perkataan ical. Akhirnya dia yg disuruh maju.
"Coba kamu ceritain tadi,"
"Yang barusan bu???" Ical tidak yakin.
"Iya yang barusan,"
"Saya bercerita kepada Novian. Hal yang ingin saya lakukan ketika pulang dari kampus. Saya tuh inginnya ada bunyi 'ces' " Ical memberikan penjelasan tidak lupa juga ekspresi wajahnya mirip dengan anak kecil yang sebagai model di iklan minyak goreng.
Sontak, orang-orang sekelas ketawa semua gara-gara ngeliat ekspresi Ical. Termasuk dosen ane. Ical cuma senyum-senyum, rela diketawain.
"Lanjutkan,"
"Sesampainya saya di rumah, saya mendengar ada bunyi 'ces',"
"Tidur, bu!" Bembi menjawab dengan logat betawi-nya.
"Coba Toni…" tanya dosen ane lagi ke mahasiswa lain, Toni.
"Saya akan berkunjung ke rumah teman saya," Toni menjawab dengan jelas dan padat.
"Coba Angga…"
"Ke rumah temen saya, bu." jawab Angga singkat.
"Nah, kita sendiri bisa denger kan, mana jawaban yang paling tepat struktur kalimatnya…" Dosen ane memberikan penjelasan. "Coba toni maju, ceritakan apa yg akan kamu lakukan ketika pulang dari kampus," lanjutnya.
"Bener nih bu, saya maju?" tanya Toni untuk meyakinkan.
"Iya,"
Tiba-tiba temen ane, nama panggilannya Ical, duduk paling depan menengok ke belakang. Memutarkan kepalanya hampir 180 derajat.
"Maunya sih sampe di rumah ada bunyi 'ces'," kata Ical dibarengi dengan tangannya yang meragain iklan minyak goreng.
Ternyata, dosen ane denger perkataan ical. Akhirnya dia yg disuruh maju.
"Coba kamu ceritain tadi,"
"Yang barusan bu???" Ical tidak yakin.
"Iya yang barusan,"
"Saya bercerita kepada Novian. Hal yang ingin saya lakukan ketika pulang dari kampus. Saya tuh inginnya ada bunyi 'ces' " Ical memberikan penjelasan tidak lupa juga ekspresi wajahnya mirip dengan anak kecil yang sebagai model di iklan minyak goreng.
Sontak, orang-orang sekelas ketawa semua gara-gara ngeliat ekspresi Ical. Termasuk dosen ane. Ical cuma senyum-senyum, rela diketawain.
"Lanjutkan,"
"Sesampainya saya di rumah, saya mendengar ada bunyi 'ces',"
Suasana kelas jadi makin ramai gara-gara kelakuan Ical.
"Saya kemudian ke dapur untuk mengetahui penyebab bunyi 'ces' tersebut. Saya ke dapur naik ojek dua kali,"
Tambah berisik oleh suara tertawa para mahasiswa.
"Emang dapurnya sejauh mana? Sampe naik ojek dua kali?"
"Hehehehehe, yang kata naik ojek tadi di apus, Bu. Nggak jadi,"
"Oh, ya…boleh...boleh…"
"Saya kemudian menemukan ibu saya yg sedang memasak. Ternyata bunyi tersebut adalah bunyi masakan yg sedang digoreng,"
"Oh, bunyi masakan ya…kamu boleh kembali duduk," kata dosen ane. "Kita sendiri bisa menyimpulkan kalau bunyi 'ces' itu adalah bunyi masakan. Kasih tepuk tangan buat Ical," lanjut dosen ane.
Ical pun kembali ke tempat duduknya diiringi dengan suara tawa dan tepukan tangan.
Ical pun kembali ke tempat duduknya diiringi dengan suara tawa dan tepukan tangan.
Komentar