Langsung ke konten utama

Geng UP

UP adalah nama geng ane saat SMK. UP sebenernya singkatan dari Under Pentium tapi terkadang kita juga menggunakan istilah Unix People. Geng UP terdiri atas 4 orang, Meilina (ane), Ketty, Linda, dan Septi. Ini adalah lagu kebangsaan geng UP tapi anggota geng UP nggak pernah hapal lirik lagunya (-_-")



Ketty 

Cowo yang satu ini. Eh, salah. Cewe yang satu ini dikenal dengan mantan preman. Ups! Sebenernya lebih tepat dia ini cewe macho. Gimana nggak? Galaknya minta ampun, juteknya setengah mati.
-------------------------------
Seperti layaknya anak yg masuk smk. Saat melakukan prakerin (itu tuh nama lainnya PKL, pedagang kaki lima, ups maksud ane praktek kerja lapangan), para siswa diharuskan memiliki buku laporan. Nah, di dalam buku itu harus ada tanda tangan yg bermateraikan 6000. Jujur, nyampe sekarang ane nggak tau alasan harus pake materai. Mungkin biar anak yang PKL nggak kabur atau biar anak PKL nggak jadi maho (loh, apa hubungannya??).

Saat itu, ane lagi maen di rumah ketty. Sebenernya lebih tepat ane nyamper ketty. Entah, ane lupa tujuan ane mau ke mana.

"Mah! nanti uangnya, Ketty beliin perangko ya??" teriak Ketty ke mamanya, tangannya sambil melambai ke arah ibunya seperti mau pergi jauh aja.

Ibunya Ketty nggak bales ucapan Ketty. Cuma balas lambaian tangan anaknya itu.
 
"Perangko?? Buat apaan?? Mau ngirim surat??" tanya ane yang lagi keherannan.

"Ih, Mei! buat buku laporan lah..."

"Buku laporan?? Ntu buku mau dikirim??"

"Ih, Mei! UP banget nih. Lah kan buat ngisi perjanjian itu....Kan ada salah satu halaman harus pake perangko..."

"Wew, sejak kapan fungsi perangko berubah jadi kayak fungsi materai??"

"Eh, salah ya..." kata Ketty dengan wajah yang agak memerah akibat malu.

"Iya salah... Udah salah, suara keras, ngotot lagi dibilangin, ampe Mei dikatain UP,"

"Maklumlah Mei... Kalo masalah sebut Mei UP itu kan bukan ngatain tapi berkata jujur,"


Linda

Linda adalah anggota geng up yg paling cantik. Tubuhnya langsing, tinggi tapi jangan liat dia dr pinggul ampe jempol kakinya karena dari bagian itu, dia terlihat besar.

"Emak! kalo temen-temen kita nanyain nda, bilang ya linda jadi TKW di Paris," kata Linda suatu saat ke ane.

"Lah, ngapain neng di Paris? nyabutin rumput di taman menara eiffel?"

"Bukan mak! bersihin tiang menara eifel!"

"Hahahaha, iya deh, nanti kalo ada yg nanya mei bilang gitu. tapi kalo ada yg nanya ya,"

"Iya, iya,"

Linda emang biasa manggil ane dengan sebutan "emak" karena ane paling cerewet.

Berikut ini adalah salah satu maen komentar-komentaran lewat jejaring sosial buatan Mark saat menjelang lebaran.

"Emak, maen ke rumah dong,"

"Insya Allah, abis lebaran ya, nda. Biasa nih lagi sibuk. Sibuk ngurusin rumah makan Ibu Wati (wati: salah satu kata yg ada di nama ane). Oia, lebaran pulang nggak? Kan udah jadi TKW di Paris?"

"Iya mak, pulang kok. Tapi nanti, soalnya nda lagi di Inggris, lagi shooting pelem. Udah beli baju belom?"

"Lah, katanya di Paris? Udah pindah lagi? Belom beli baju, neng. Apanan kan sibuk jagain warung Ibu Wati,"

"Lah, pan udah ditransper maren. Mangkanya, emak kalo ngambil duit di ATM, jangan keder apa. Beli dah sono baju yang rada cakepan buat lebaran. Kagak pindah dari Paris, cuma lagi shooting di Inggris,"

"Lagian emak bingung kalo di ATM. Kagak ada orangnya kok duitnya bisa keluar ya? Cialah...shooting pilem apaan sih, neng?"

"Lah, emang kagak usah bingung. Lah, kan ono dalem kotak gede ada mbaknye mak di dalemnye. Pilemnya judulnya dilema hidupku. Asyik, asyik! Gaya banget ya, mak?"

"Wah, berarti kayak banget tuh mbak, duitnya kagak abis-abis. Ckckckckck. Dilema hidupku? Maennya sama siapa aja, neng?"

"Maennya ama jeki cen, mak. Sama sule juga,"

"Wah, mintain tanda tangannya ya, neng. Bilangin emak ngepens berat sama mereka. Hahahahaha. Udah ah, nda. Mei kayak orang gila nih ketawa sendirian,"

"Hahahaha. Lah, emang emak udah waras ape?"

"Belom waras sih, tapi kan lagi berusaha jadi orang waras,"
 

Septi

Septi adalah anggota yang paling manis di geng UP. Namun, jangan liat dia dari bentuk badannya ya. Dia itu bohay. Hehehehehe.
--------------------
Saat itu, ane lagi jalan berdua sama septi. kemudian, tibalah kami di percabangan jalan (kayak dahan ranting aja bercabang)

"Sep, ke kanan aja bukan ke kiri," kata ane.

Eh, Septi malah belok kiri.

"Heh, Icunt ke kanan...bukan ke kiri..." kata ane dengan sebutan Septi yang lain, Icunt.

"Hah? Kanan?? Sini kanan kan???"

"Bukan sana mah kiri, sini baru kanan..."

"Au ah! Gua bingung!"

"Lah, malah marah. Sini mei kasih tau. Tangan yang buat makan itu tangan yang bagus alias tangan kanan. Kalo tangan yang buat cebok, tangan yang jelek alias tangan kiri,"

"Heh, gitu ya?"

"Iya..."

Akhirnya, Septi jalan ke arah kanan, sesuai dengan arah yang ane tunjukkin.

"Kanan, tangan yg buat makan, kiri, tangan yg buat cebok," kata Septi berulang-ulang.

"Aduh, nih anak, jangan-jangan nggak lulus tk nih, kanan kiri aja nggak bisa bedain,"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.