Langsung ke konten utama

Terima Kasih


Putus asa. Ya, aku mulai putus asa. Harapanku mulai padam. Saat pagi hari tanggal 25 Mei, harapanku sirna. “dia sudah melupakannya. Ya, maklum saja dia sudah semakin tua,” batinku berkata hanya untuk menghiburku.

Tapi, siang itu, saat aku sudah melupakan keputus asaanku, dia menghubungiku. Aku lihat layar ponselku dan tertera nama dia, Bapak. “jangan-jangan ibu udah bilang kalau aku lagi enggak di rumah,” ujarku dalam hati. Untuk menjawab pertanyaanku, aku segera mengangkat panggilan dia.

Aku sungguh tidak menyangka, dia akan mengingatnya. Mengingat hari saat aku dilahirkan.

“Bapak cuma mau ngucapin selamat ulang tahun,” katanya lirih, mataku pun langsung berkaca-kaca.

“Semoga menjadi tambah dewasa,”

“Jaga mama sama adek kamu baik-baik, cuma kamu yang bisa bapak andelin,” air mataku menetes mendengar kata-katanya.

“Kamu kan dari lahir udah bapak sering tinggal, jadi kamu harus kuat. Bapak juga sebenernya enggak mau ninggalin kamu, mama, sama adek kamu tapi mau gimana lagi? Kalau bapak enggak pergi, kamu enggak bisa makan sama sekolah,”

Ayah, kau selalu tahu cara membuatku meneteskan air mata. Bahkan, hanya dengan mengingat perkataanmu itu, pipiku telah basah. Termasuk saat ini, saat aku menuangkan perkataanmu dalam bentuk tulisan.

Terima kasih atas kepercayaanmu, ayah. Aku beruntung memiliki ayah sepertimu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.