Putus asa. Ya,
aku mulai putus asa. Harapanku mulai padam. Saat pagi hari tanggal 25 Mei,
harapanku sirna. “dia sudah melupakannya. Ya, maklum saja dia sudah semakin
tua,” batinku berkata hanya untuk menghiburku.
Tapi, siang
itu, saat aku sudah melupakan keputus asaanku, dia menghubungiku. Aku lihat
layar ponselku dan tertera nama dia, Bapak. “jangan-jangan ibu udah bilang
kalau aku lagi enggak di rumah,” ujarku dalam hati. Untuk menjawab
pertanyaanku, aku segera mengangkat panggilan dia.
Aku sungguh
tidak menyangka, dia akan mengingatnya. Mengingat hari saat aku dilahirkan.
“Bapak cuma
mau ngucapin selamat ulang tahun,” katanya lirih, mataku pun langsung
berkaca-kaca.
“Semoga
menjadi tambah dewasa,”
“Jaga mama
sama adek kamu baik-baik, cuma kamu yang bisa bapak andelin,” air mataku
menetes mendengar kata-katanya.
“Kamu kan
dari lahir udah bapak sering tinggal, jadi kamu harus kuat. Bapak juga
sebenernya enggak mau ninggalin kamu, mama, sama adek kamu tapi mau gimana
lagi? Kalau bapak enggak pergi, kamu enggak bisa makan sama sekolah,”
Ayah, kau
selalu tahu cara membuatku meneteskan air mata. Bahkan, hanya dengan mengingat
perkataanmu itu, pipiku telah basah. Termasuk saat ini, saat aku menuangkan
perkataanmu dalam bentuk tulisan.
Terima
kasih atas kepercayaanmu, ayah. Aku beruntung memiliki ayah sepertimu.

Komentar