Langsung ke konten utama

Galau? Normal Kok

"Mei lu pernah galau, kan? Tapi kok gua nggak pernah liat lu galau ya?"

Pertanyaan itu tiba-tiba dilontarkan oleh salah satu teman ane yang cewe, terkenal dengan keidealisannya, blak-blakannya, dan lady rocker. (Ayo, siapa yang mau kenalan sama dia? Ambil formulir di ane ya, sekalian uang pendaftarannya :3. Loh, jadi "ngobral" -_- )


"Nggak perlu ditanya lagi, itu udah pasti jawabannya 'pernah'. Ane juga manusia biasa, wanita biasa," rasanya mau ane jawab dengan jawaban seperti itu. Tapi ternyata yang keluar dari mulut ane itu berbeda.


"Pasti pernah, dong," kata ane sambil senyum merekah di bibir. "Emangnya kenapa?" sambung ane.


"Gua nggak pernah liat lu galau aja, kayaknya enak-enak aja hidupnya, nggak galau padahal nggak punya cowo."


"Hahahahahaha. Mei pinter nyembunyiin perasaan galau. Cuma orang-orang tertentu aja yang tau."


"Oia, gua inget lu kan pernah update status gini 'Aku suka kamu. Kamu suka dia. Dia suka kamu. Terus Mei gimana? Ya udah, kembali ke laptop aja deh :D'."


Oo. Ane baru inget kalo ane emang pernah ngepost kalimat itu di situs jejaring sosial sebelah. Tapi kayaknya udah ane hapus deh. Yah, percuma aja. Walaupun udah dihapus, posting itu masih duduk nyaman, tidur, minum, makan, mandi, dll. di server dan di otak orang-orang yang udah baca posting-an tersebut. Menyesal udah posting itu?? Nggak, dong. Seenggaknya orang-orang tau kalo ane ini manusia biasa :D. Selama ini, di mata mereka, ane sosok yang "anti galau". -_-


"Hahahahaha, inget aja," jawab ane sekenanya.


"Saya suka sama Anda. Anda tidak jelas suka siapa. Tapi Anda selalu muncul di hidup saya. Tapi kerjaan Anda hanya membuat orang-oranga bingung. Anda tidak pernah tau ada yang namanya perasaan. Anda pikir enak cuma jadi pelarian terus. Terus kalau pelariannya udah selesai main pergi aja. Hey!! Apa kabarnya perasaan saya. Ini bukan waktu yg sebentar loh. Ini udah lama. Hahahahahaha. Kasian yaa gue."


Jleb!!! Itu yang sering ane alamin juga -_-. Oh, kita seperjuangan sista (sambil ngelap ingus di baju orang lain)


"Sabar ya, itu pelatihan buat si hati kok"


"Aduh, bisa-bisanya gua galau gara-gara 'hal yang nggak penting' ini. Masih banyak hal yang lebih penting dari perasaan"


"Nggak penting? Masalah hati itu penting, kok. Penting banget malah,"


Wkwkwkwkwkwk, bisa-bisanya ane nenangin orang lain dengan bawa-bawa 'hati'. Padahal kata hati ane sendiri aja jarang ane dengerin. Jangan dicontoh!!!


"Wkwkwkwkwkwk. Gua ngetawain diri sendiri aja deh"


"Wkwkwkwkwkwkwk. Nggak cuma sista yang ngalamin kayak gitu. Banyak orang kok yang ngalamin kayak gitu. Termasuk Mei. Mei malah sering. Cieeee yang lagi berusaha nyembuhin sakit hati dengan masukan logika dari otak."


Ok, kali ini ane nggak bakal ngebahas tentang "kegalauan cinta bertepuk sebelah tangan" ataupun "kegalauan karena si doi yang nggak peka". Ane mau bahas "kegalauan karena keinginan hati yang berbeda dengan kenyataan, si otak pun berusaha menyembuhkan sakit hati."


Well, 'hati', 'perasaan', atau apalah itu nama sebutannya bukan hal yang penting tapi penting juga. Bukan hal yang rumit tapi rumit. Ya, kalau ngomongin 'hati' pasti ada 'otak'. Kaitannya?? Hati memang tidak bisa dinalarkan oleh otak. Hati maunya ke kiri, otak maunya ke kanan. Peperangan antara hati dan otak. Peperangan yang selalu terjadi ber-ronde-ronde tanpa adanya batasan waktu. Peperangan yang paling ditunggu-tunggu hasil akhirnya.




Masa peperangan si hati dan si otak adalah masa yang sering disebut dengan kegalauan, kebimbangan, dan keraguan. Masa memilah-milah keputusan terbaik yang bisa diambil dengan resiko serendah-rendahnya. Bingung pilih baju warna merah atau biru untuk dipakai besok? Nah, itu dia yg namanya kegalauan, kebimbangan, dan keraguan. Nggak perlu kesal dengan kegalauan cs. Mereka memang dibutuhkan kita dalam hidup kok. Dengan adanya kegalauan, kebimbangan, dan keraguan itu adalah tanda bahwa kita sedang berpikir. Berkipikir terus -menerus, memilih keputusan yang terbaik dari masalah buruk yang sedang dihadapi, hingga akhirnya kita memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan dan siap menghadapi resiko yang akan muncul. Just keep smile! (gaya Cesar).


Wajar nggak sih kalau otak berantem lagi sama hati gara-gara si hati tersakiti? Yup! Itu adalah hal yang sangaaaaaatttttt wajar. Semua orang pasti ngalamin :D. Namanya juga memotivasi diri sendiri dengan berpikiran hal-hal positif dari musibah/kejadian buruk yang terjadi. Musibah ternyata si doi nggak suka kita? Ya sudahlah, kita bisa mencari yang lebih baik dari doi (si doi jarang mandi, ya kita cari pengganti doi yang sering mandi sampai badannya bau sabun mandi).





Ah, pokoknya mah biar nggak terlalu sakit hati jangan terlalu mencintai seseorang. Kalau jatuh cinta, harus bawa-bawa logika juga. Kayak kutipan ini nih Follow your heart but take your brain with you.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.