Langsung ke konten utama

Jangan Mengeluh

Enggak kerasa, satu tahun lagi, ane lulus kuliah a.k.a wisuda. Mmm... Kayaknya baru kemari, deh, anak TKJ2 ngomongin tentang rencana setelah lulus SMK. Bumi terus berputar sehingga membuat ane lupa akan waktu yang terus berlalu.

Seiring semakin dekatnya, hari yang ane nantikan itu, semakin besar desakkan dari orang tua ane, biar ane lanjutin sekolah lagi. Ane tau, ane nanti cuma lulusan d3. Tapi, enggak bolehkah ane merasakan dunia kerja dulu? 

"Lin, mumpung bapak masih punya tenaga buat kerja, ya kamu itu sekolah lagi. Bapak enggak mau kamu ngerasain omelan dari atasan," begitu kata ayah saat ane ngambek enggak mau ngelanjutin.

Justru karena itu, ane mau kerja dulu. Mau ngerasain dulu 'enggak enaknya' diomelin orang lain. Ane butuh motivasi itu.

"Ya, udah lah, Mei. Mumpung ada kesempatan, lanjutin sekolah lagi aja. Kalau Nda bisa milih pun, Nda bakal milih lanjutin sekolah," tanggapan Linda, saat ane cerita tentang hal ini.

Okay. Udah dua orang yang enggak setuju akan keinginan ane. Eh, salah, deh. Udah tiga orang, ibu ane masuk ke dalam orang-orang tersebut.

Namun, saat ane cerita hal ini kepada temen ane yang lain, ane merasa puas. Bukan karena dia setuju akan keinginan ane, melainkan karena dia enggak menunjukkan pendapat dia tentang hal itu.

"Raihlan citamu setinggi tingginya. Jangan mengeluh pada setiap harimu yang kurang menyenangkan. Namun, percayalah pasti ada sesuatu yang baik di setiap harimu."

Nyes...
Hati ane jadi adem, baca kalimat itu. Ya, walaupun itu kalimat sederhana, ane bisa lebih tenang dan berpikir lebih jernih. Sejak saat itu, ane berusaha untuk tidak mengeluh dan percaya ada sesuatu yang baik. Ane pun punya semangat dan motivasi lagi buat ngelanjutin sekolah ane. :-)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.