Langsung ke konten utama

Gara-Gara Entrok


Entrok (bra). Benda sederhana yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1889 di Prancis. Benda yang awalnya digunakan sebagai fashion pada zaman perang dunia, menjadi ide awal dan juga judul novel ini. Okky Madasari menulisnya dengan apik dan sederhana.

Sebenarnya, ini adalah novel ke-2 karya Okky yang Mei baca. Novel pertama yang Mei baca berjudul Pasung Jiwa. Penarasan karena Mei merasa "ditipu" menganggap penulisnya itu laki-laki, membuat Mei mau membaca novel nya yg lain.

Novel ini diawali dengan sebuah akibat dari kisah dulu. Kemudian dilanjutkan dengan kisah-kisah penyebabnya.

Sumarni (Marni) kecil menginginkan benda untuk menyokong dadanya yang mulai tumbuh, entrok. Namun, keadaan keluarga yang serba kekurangan dan sudah ditinggalkan sang ayah ke alam baka membuat entrok menjadi benda yang mahal apalagi di daerah terpencil seperti Singget.

Sadar akan ketidakmampuan ibunya membelikan entrok untuknya, ia pun bekerja di pasar sebagai buruh mengupas singkong bersama ibunya. Ternyata upah menjadi buruh dibayar dengan singkong bukan uang. Ia pun alih profesi sebagai kuli panggul. Sekeping demi sekeping rupiah ia kumpulkan demi membeli entrok hingga akhirnya berlebih dan ia memulai berjualan (bakulan) keliling.

Marni menikah dengan Teja dan dikaruniai anak perempuan bernama Rahayu. Dengan ditemani Teja, Marni terus bakulan hingga bakulan uang (jasa pinjam uang dengan bunga). Semuanya dilakukan agar Rahayu bisa sekolah dan menjadi sarjana.

Kesuksesannya membuat orang-orang iri padanya. Banyak fitnah yang ditujukan untuknya, diantaranya tentang pesugihan. Rahayu juga kena batunya, ia sering diejek teman-temannya dan guru sekolahnya sebagai anak dari pesugih. Padahal, Marni hanya melakukan tradisi dari orang tuanya, berdoa di tengah malam dan membuatkan tumpeng untuk leluhurnya. Hal ini berlangsung hingga Rahayu memutuskan kuliah di Jogjakarta.

Hidup di masa orde baru, membuat bisnisnya selalu terancam. Cara mengamankannya hanya dengan membayar setoran setiap dua minggu sekali kepada tentara.

Novel ini banyak bercerita tentang ketidakberdayaan rakyat kecil melawan pemerintah yang diwakili oleh tentara. Siapa yang berani menolak perintah tentara, berarti menolak pemerintah dan dianggap sebagai PKI. Dan saat dicap sebagai PKI pilihannya hanya dua: dipenjara atau dibunuh.
 
"Hei, Kang! Kowe kok kurang ajar begitu! Kami ini petugas. Ke sini bukan mau minta jatah. Kami hanya mau menjaga keamanan!" (halaman 71)

Dari sekian banyak kata-kata di novel ini, Mei suka dengan kutipan ini:
"Aku menyukai semuanya. Semua yang ada padanya. Meskipun dalam diam, tersimpan rapat dalam satu ruangan hati. Cukup itu saja. Karena dia Tak lagi sendiri." (halaman 137). Kalimat itu terucap dalam hati saat Rahayu dewasa kagum terhadap seorang Dosen yang sudah berkeluarga, Amri.
 
Perjuangan untuk terus hidup dan melawan ketidakadilan yang diterima seorang perempuan menjadi tema dalam buku ini. Berawal dari keinginan memiliki entrok, membuatnya terus kerja keras-pantang menyerah demi kehidupan ia dan anak perempuan satu-satunya. Ini yang membuat Mei kagum dengan pengarangnya. Ide sederhana bisa menghasilkan sebuah judul novel.

Alur terasa begitu mengalir. Tanpa adanya kesulitan untuk memahami. Hal ini yang membuat pembaca (Mei) terus penasaran tentang kelanjutan kisahnya. Hingga akhirnya novel ini selesai Mei baca dalam waktu delapan hari. Ini rekor bagi Mei, loh...

Sudut pandang kata ganti orang ke-3 yang digunakan. Penulis menjadi Marni dan Rahayu secara bergantian. Pergantian ini dipisahkan oleh bab.

Novel ini sangat feminis. Menojolkan sisi wanita yang kuat (harus kuat) karena keadaan. Karena latar yang digunakan adalah latar zaman yang menonjolkan sikap semena-mena tentara, maka novel ini dikategorikan sebagai novel dewasa. Mei beri 7/10 untuk novel ini.



Judul: Entrok
Pengarang: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Tebal Halaman: 288
Rate (subjektif): 7/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.