23:59. Yups! Jam yang ada di pojok kanan bawah laptopku menunjukkan angka tersebut saat aku mengetik angka "2". Tidak terdengar suara jam yang berdetak, tidak juga terdengar suara cicak yang sedang berebut makanan. Sunyi. Suara yang dengan setia menemaniku hanya suara bising fan lepi ditemani dengan suara serangga, entah apa nama serangga tersebut.
Di tengah malam ini, hati kecil ini mulai berteriak, tubuh ini mulai menyanyikan nyanyian kepedihan. Aku mencoba untuk menutup mata dan telinga, tidak mau melihat dan mendengar apa yang sedang aku rasakan sekarang. Mengapa kali ini aku kesulitan untuk melakukan hal itu? Padahal, aku sudah terbiasa untuk mematikan saklar kejujuran terhadap diri sendiri.
Baik, aku akui. Aku akui bahwa kali ini aku memang tersiksa hingga membuatku sulit untuk memejamkan mata. Tersiksa akan kekhawatiran yang akan terjadi nanti. Nanti adalah saat aku memeriksakan tubuh ini. Tubuh yang kian hari kian mengurus. Tubuh yang kian hari kian tidak bertenaga. Tubuh yang kian hari kian kehilangan cahaya.
Mungkin ini adalah puncak kemarahan tubuh ini. Tubuh ini setiap saat aku siksa dengan sedikit istirahat. Tubuh ini setiap saat aku paksa dengan mengerjakan tugas yang tiada habisnya. Jika ada kontes menyakiti tubuh sendiri, aku pasti menjadi pemenangnya.
Entah sejak kapan, aku mulai mengabaikan jeritan tubuh ini. Hingga akhirnya, tubuh ini melampaui kemampuannya. Betapa bodohnya aku, menyia-nyiakan tubuh pemberian Tuhan ini.
Di tengah malam ini, hati kecil ini mulai berteriak, tubuh ini mulai menyanyikan nyanyian kepedihan. Aku mencoba untuk menutup mata dan telinga, tidak mau melihat dan mendengar apa yang sedang aku rasakan sekarang. Mengapa kali ini aku kesulitan untuk melakukan hal itu? Padahal, aku sudah terbiasa untuk mematikan saklar kejujuran terhadap diri sendiri.
Baik, aku akui. Aku akui bahwa kali ini aku memang tersiksa hingga membuatku sulit untuk memejamkan mata. Tersiksa akan kekhawatiran yang akan terjadi nanti. Nanti adalah saat aku memeriksakan tubuh ini. Tubuh yang kian hari kian mengurus. Tubuh yang kian hari kian tidak bertenaga. Tubuh yang kian hari kian kehilangan cahaya.
Mungkin ini adalah puncak kemarahan tubuh ini. Tubuh ini setiap saat aku siksa dengan sedikit istirahat. Tubuh ini setiap saat aku paksa dengan mengerjakan tugas yang tiada habisnya. Jika ada kontes menyakiti tubuh sendiri, aku pasti menjadi pemenangnya.
Entah sejak kapan, aku mulai mengabaikan jeritan tubuh ini. Hingga akhirnya, tubuh ini melampaui kemampuannya. Betapa bodohnya aku, menyia-nyiakan tubuh pemberian Tuhan ini.
Komentar