Langsung ke konten utama

Coretan di kala tengah malam

23:59. Yups! Jam yang ada di pojok kanan bawah laptopku menunjukkan angka tersebut saat aku mengetik angka "2". Tidak terdengar suara jam yang berdetak, tidak juga terdengar suara cicak yang sedang berebut makanan. Sunyi. Suara yang dengan setia menemaniku hanya suara bising fan lepi ditemani dengan suara serangga, entah apa nama serangga tersebut.

Di tengah malam ini, hati kecil ini mulai berteriak, tubuh ini mulai menyanyikan nyanyian kepedihan. Aku mencoba untuk menutup mata dan telinga, tidak mau melihat dan mendengar apa yang sedang aku rasakan sekarang. Mengapa kali ini aku kesulitan untuk melakukan hal itu? Padahal, aku sudah terbiasa untuk mematikan saklar kejujuran terhadap diri sendiri.

Baik, aku akui. Aku akui bahwa kali ini aku memang tersiksa hingga membuatku sulit untuk memejamkan mata. Tersiksa akan kekhawatiran yang akan terjadi nanti. Nanti adalah saat aku memeriksakan tubuh ini. Tubuh yang kian hari kian mengurus. Tubuh yang kian hari kian tidak bertenaga. Tubuh yang kian hari kian kehilangan cahaya.

Mungkin ini adalah puncak kemarahan tubuh ini. Tubuh ini setiap saat aku siksa dengan sedikit istirahat. Tubuh ini setiap saat aku paksa dengan mengerjakan tugas yang tiada habisnya. Jika ada kontes menyakiti tubuh sendiri, aku pasti menjadi pemenangnya.

Entah sejak kapan, aku mulai mengabaikan jeritan tubuh ini. Hingga akhirnya, tubuh ini melampaui kemampuannya. Betapa bodohnya aku, menyia-nyiakan tubuh pemberian Tuhan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.