Ayah
ane adalah satu-satunya orang yg ngedukung hobi makan sama ngemil ane. Ini
juga jadi salah satu alasan kenapa ane sayang sama dia.
---------------
Siang hari, sinar matahari begitu terasa terik, ane baru pulang sekolah. Seperti biasa,
ane pulang bareng Geng UP. Selama perjalanan pulang pun, kita tetep rame
(nggak nyadar dan nggak mau sadar kalo ganggu orang lain)
Si Ketty, yang emang orangnya nggak bisa diem, mencari bahan isengan. Target pun ditemukan. Daun pisang. Tangannya pun asik mengambil ngambil daun pisang yg daunnya pendek.
"Bu, nih Bu. Daun pisangnya mau dicolong," teriak Linda. Eh, ternyata ada seorang ibu-ibu yang lewat, sepertinya dia orang yang punya pohon pisang itu.
Ibu itu hanya melihat ke arah kita sambil tersenyum. Senyum berjuta makna.
"Ah, lu mah nda! Kan gua jadi malu," keluh Ketty sambil memonyongkan mulutnya.
"Lagian lu, iseng aja," Linda membela diri.
"Udah, udah... ayo jalan lagi, nanti kita kelamaan di sini, kita dianggap penunggu pohon pisang lagi..."
akhirnya, kita jalan lagi. tanpa terasa ane udah di depan rumah, berpisah sama Geng UP.
Sesampainya di rumah, ada ayah ane. Ya, dia lagi libur kerja selama seminggu setelah bekerja selama 3 bulan (uwaaa...ane ditinggal)
"Assalamualaikum," ucap ane dengan intonasi anak tk yang mengucapkan salam.
Ayah ane pun membukakan pintu
"Waalaikumussalam. Eh, Lina udah pulang. Makan gih, bapak masakin tongseng buat kamu." Ah, beruntungnya ane punya ayah yang jago masak, tapi sayangnya hal itu nggak nular ke ane sebagai anaknya ini.
"Lah, bentar napa pak, ini baru aja mau buka sepatu."
"Iya, cepetan buka sepatunya, terus makan."
"Enggak disuruh makan pun, biasanya kan kalo Lina nyampe rumah langsung pegang piring."
Dengan menggunakan kekuatan The Flash, sepatu ane pun cepat terbuka. Tanpa ba-bi-bu lagi, tanpa berganti pakaian a.k.a masih pake seragam sekolah, ane langsung ke dapur, ngambil piring+nasi+tongseng.
"Lah, Lin. kok ngambil makannya sedikit??"
"Astaga, ini Lina udah ngambil makan sepiring penuh masih dibilang sedikit?? Iya dah, nanti Lina nambah."
Makan ane selesai, dan anenambah. Entah karena laper atau kangen masakan ayah ane yg enak, lagi juga kan jarang-jarang ane dimasakin makanan sama ayah.
"Bapak sih, suruh Lina makan melulu. Nih liat perut Lina udah kayak ibu-ibu hamil 6 bulan," ujar ane sambil nunjukin perut ane yang besar.
"Enggak apa-apa, Lin. Kita kan keluarga perut besar. Liat noh si Olive (panggilan kesayangan ibu ane. panggilan ini panggilan dari ayah ane loh) perutnya udah kayak Semar"
"Heh, ngatain lagi! Bapak noh, perutnya udah kayak Brutus (nama salah satu tokoh di kartun Popaye)," ujar ibu.
Ayah ane cuma bisa nyengir kuda. Ane pun langsung berpikir, "ini kenapa pada saling tunjuk? Padahal perutnya sama aja, sama-sama besar, termasuk ane sih,"
---------------
Si Ketty, yang emang orangnya nggak bisa diem, mencari bahan isengan. Target pun ditemukan. Daun pisang. Tangannya pun asik mengambil ngambil daun pisang yg daunnya pendek.
"Bu, nih Bu. Daun pisangnya mau dicolong," teriak Linda. Eh, ternyata ada seorang ibu-ibu yang lewat, sepertinya dia orang yang punya pohon pisang itu.
Ibu itu hanya melihat ke arah kita sambil tersenyum. Senyum berjuta makna.
"Ah, lu mah nda! Kan gua jadi malu," keluh Ketty sambil memonyongkan mulutnya.
"Lagian lu, iseng aja," Linda membela diri.
"Udah, udah... ayo jalan lagi, nanti kita kelamaan di sini, kita dianggap penunggu pohon pisang lagi..."
akhirnya, kita jalan lagi. tanpa terasa ane udah di depan rumah, berpisah sama Geng UP.
Sesampainya di rumah, ada ayah ane. Ya, dia lagi libur kerja selama seminggu setelah bekerja selama 3 bulan (uwaaa...ane ditinggal)
"Assalamualaikum," ucap ane dengan intonasi anak tk yang mengucapkan salam.
Ayah ane pun membukakan pintu
"Waalaikumussalam. Eh, Lina udah pulang. Makan gih, bapak masakin tongseng buat kamu." Ah, beruntungnya ane punya ayah yang jago masak, tapi sayangnya hal itu nggak nular ke ane sebagai anaknya ini.
"Lah, bentar napa pak, ini baru aja mau buka sepatu."
"Iya, cepetan buka sepatunya, terus makan."
"Enggak disuruh makan pun, biasanya kan kalo Lina nyampe rumah langsung pegang piring."
Dengan menggunakan kekuatan The Flash, sepatu ane pun cepat terbuka. Tanpa ba-bi-bu lagi, tanpa berganti pakaian a.k.a masih pake seragam sekolah, ane langsung ke dapur, ngambil piring+nasi+tongseng.
"Lah, Lin. kok ngambil makannya sedikit??"
"Astaga, ini Lina udah ngambil makan sepiring penuh masih dibilang sedikit?? Iya dah, nanti Lina nambah."
Makan ane selesai, dan ane
"Bapak sih, suruh Lina makan melulu. Nih liat perut Lina udah kayak ibu-ibu hamil 6 bulan," ujar ane sambil nunjukin perut ane yang besar.
"Enggak apa-apa, Lin. Kita kan keluarga perut besar. Liat noh si Olive (panggilan kesayangan ibu ane. panggilan ini panggilan dari ayah ane loh) perutnya udah kayak Semar"
"Heh, ngatain lagi! Bapak noh, perutnya udah kayak Brutus (nama salah satu tokoh di kartun Popaye)," ujar ibu.
Ayah ane cuma bisa nyengir kuda. Ane pun langsung berpikir, "ini kenapa pada saling tunjuk? Padahal perutnya sama aja, sama-sama besar, termasuk ane sih,"
Komentar