Gemes. Mungkin itu yang ibu ane alami. Soalnya, beliau enggak pernah ane kenalin
sama cowo yg sebagai pacar ane. Bukan berarti ane maho. Ane normal kok. Ane cuma nunggu orang yang beruntung dapetin ane.
Saat itu, lagi asyik nonton TV bersama ibu. Ritual yang biasa ane lakuin saat nonton TV pun enggak ketinggalan yaitu ngemil. Di dekapan ane udah ada setoples kerupuk sebagai cemilan saat itu. Ibu ane lagi asyik nonton TV. Acara yang ditonton lagi ngebahas tentang bela diri.
"Ibu sih, waktu Lina SMP, Lina enggak diiznin buat ikut bela diri," kata ane, membuka pembicaraan.
"Emang buat apaan bisa bela diri?" tanya Ibu yang mulai bingung tapi tetep dengan ekspresi wajah datar.
"Lah, kalau Lina bisa bela diri kan, Lina enggak lemah kayak gini,"
"Kamu enggak bisa bela diri aja nggak ada yang deketin. Gimana kalau kamu bisa bela diri?"
Jeder! Jeder! Jeder! (Ceritanya suara petir di siang hari bolong).
Ane langsung jadi patung. Diam, bisu, kaku itu yang langsung ane rasakan. Ane coba untuk memutar otak, menemukan jawaban atas pernyataan yang mendalam itu. Hasilnya, tetep nihil. Ane nggak bisa berkata apa-apa.
Saat itu, lagi asyik nonton TV bersama ibu. Ritual yang biasa ane lakuin saat nonton TV pun enggak ketinggalan yaitu ngemil. Di dekapan ane udah ada setoples kerupuk sebagai cemilan saat itu. Ibu ane lagi asyik nonton TV. Acara yang ditonton lagi ngebahas tentang bela diri.
"Ibu sih, waktu Lina SMP, Lina enggak diiznin buat ikut bela diri," kata ane, membuka pembicaraan.
"Emang buat apaan bisa bela diri?" tanya Ibu yang mulai bingung tapi tetep dengan ekspresi wajah datar.
"Lah, kalau Lina bisa bela diri kan, Lina enggak lemah kayak gini,"
"Kamu enggak bisa bela diri aja nggak ada yang deketin. Gimana kalau kamu bisa bela diri?"
Jeder! Jeder! Jeder! (Ceritanya suara petir di siang hari bolong).
Ane langsung jadi patung. Diam, bisu, kaku itu yang langsung ane rasakan. Ane coba untuk memutar otak, menemukan jawaban atas pernyataan yang mendalam itu. Hasilnya, tetep nihil. Ane nggak bisa berkata apa-apa.
Komentar