Langsung ke konten utama

Pelupa yang Membahayakan

salah satu sifat ane yang ampun-ampunan bagi orang lain adalah pelupa. nggak usah heran, kalo setiap hari pasti ada aja yg ane lupain. entah kewajiban yg harus ane lakuin (ane biasa bertugas ngangkat jemuran kalo ibu ane nggak ada di rumah, eh ternyata ane lupa angkat tuh jemuran saat ujan. alhasil, jemuran yg udah kering jadi basah lagi.), benda yg harus ane bawa ke suatu tempat, dll.
Quote:
saat itu, ane baru aja selesai makan malam . tapi seakan mulut ane maunya ngunyah makanan terus sedangkan perut ane udah nggak muat. pergilah ane ke dapur buat nyari makanan yg bisa dimakan . ternyata, di dapur udah nggak ada makanan apa-apa . cuma ada minuman bersoda spr*t yang tinggal sedikit. ya udah, ane abisin aja sekalian .

2 jam sebelum ane makan malam....

kepala ane terasa berat (lebih berat dari berat badan ane). dunia terasa berputar. pandangan ane kabur (ini karena mata ane emang minus). itulah yang ane rasakan. awalnya ane nggak mau mikirin keadaan ane saat itu. tapi kok malah tambah parah. terpaksa ane minum obat pereda rasa sakit p*nad*l karena suruhan ibu ane.

balik lagi setelah ane makan malam. ane minum tuh minuman bersoda . dengan santai ane minum tuh langsung dari botol yg ukuran 1,5 liter. dengan wajah berseri-seri karena dapet "makanan penutup" sambil nonton tv. ibu ane yg juga lagi nonton tv, ngomong ke ane.

ibu : lin, kamu tadi minum obat kan?

ane : (dengan wajah sumringah) mmm...kayaknya.....(berusaha mengingat) kayaknya iya bu.

ibu : kalo tadi minum obat, kenapa sekarang minum spr*t??

ane : kenapa ya?? (otak ane masih berusaha keras untuk mencerna perkataan ibu ane. kan UP ) astagfirullah...oon banget lina, bu. (wajah panik, nggak tau apa yg harus dilakuin)

ibu : haduh...kamu ini. cepetan minum air putih yg banyak.

ane pun langsung ngambil lalu minum air putih (air mineral). tapi perut ane bener-bener udah nggak muat lagi . udah penuh dengan makanan dan minuman yang ane masukin ke perut sebelumnya . alhasil, ane cuma minum sekitar 5 teguk air mineral .

ane : bu, lina nggak bisa minum lagi. perut lina udah nggak muat...

ibu :

untung ane nggak kenapa-kenapa . nggak merasakan hal-hal yg aneh terjadi dalam diri ane. . Tuhan masih melindungi ane

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.