Siang hari, sepulang kuliah, seperti biasa, ane lagi ngelakuin hobi ane, tidur.
30 menit kemudian, ane belom juga bangun tidur.
1 jam kemudian, ane belom juga bangun tidur.
2 jam kemudian, ane belom juga bangun tidur.
Ane masih asyik dengan mimpi ane ketemu sama Gerard Way. Namun, tiba-tiba ada hal yg mengusik ane.
"Mbak Lina, mau beli bakso nggak?" tanya Ais tiba-tiba sambil teriak.
"Mmmm..."
"Mbak lina mau beli bakso nggak? Ais mau beli nih?" tanya Ais yang lagi buka pintu kamar ane sambil teriak.
"Mau..." kata ane sambil ngucek-ngucek mata.
"Mah, Mba Lina mau baksonya,"
"Ambil sendiri Lin, mangkoknya," kata Ibu ane.
Ane keluar kamar langsung ke dapur buat ngambil mangkok. Alhasil ane keluar rumah dengan wajah yang masih abstrak.
-skip-
Keesokkan harinya...
Seperti biasa, ane lagi tidur siang...
"Mbak Lina, mau beli siomay nggak?" tanya Ais sambil teriak.
"Mmmm..."
Ane agak lama berpikir buat paham pertanyaan ade ane, Ais.
1 detik...
Masih bingung
2 detik...
Mulai berpikir
"Hah? Beli?"
3 detik...
"Beli apaan?? Siomay??"
4 detik
Deg! Pikiran ane langsung bersimpulan kalau Ais mau beli siomay.
"Mau!!" jawab ane dengan suara keras sambil lari ke teras depan rumah.
"Mah, Lina mau dong,"
"Ambil piringnya gih,"
Ane kabur ke dapur buat ngambil piring. Banyak rintangan yang harus ane hadapi cuma untuk ngambil piring. Mulai dari nunggu cicak yang mau nyeberang di depan ane, ampe kepala ane yang kejedot daun pintu. Namun, semua perjuangan itu seakan hilang semua, saat ane menyantam siomay. Mmmm....Yummy....
-skip-
Keesokan harinya...
Ane tetap ngelakuin hobi ane yang satu itu.
30 menit kemudian...
1 jam kemudian....
2 jam kemudian...
Kali ini ane masih mimpi punya suara kayak Amy Lee, nyanyi di panggung sambil denger teriakan para penggemar "Mei, I love you!". Namun, tiba-tiba ada hal yang mengusik ane.
"Mbak Lina, mau beli mie ayam nggak?" tanya Ais yang lagi dan lagi sambil teriak.
"Hmmmm..."
Tidak ada yg berbeda, seperti biasa. Ane agak lama berpikir buat paham pertanyaan ade ane.
1 detik...
Masih bingung
2 detik...
Mulai berpikir
"Hah? Beli?"
3 detik...
"Beli apaan?? Mie ayam??"
4 detik
Deg! Pikiran ane langsung bersimpulan kalau Ais mau beli mie ayam.
"Mau!!" jawab ane dengan suara keras sambil lari kr teras depan rumah.
Saat di teras depan rumah, ane tengok ke kanan dan ke kiri persis kayak orang mau nyeberang.
"Kok, nggak ada tukang mie ayamnya?" tanya ane, kebingungan.
"Tuh, kan, Mah. Mbak Lina bangun," kata Ais.
"Mana tukang mie ayamnya??" tanya ane.
"Enggak ada," jawab Ais dengan polos.
"Lah, tadi katanya mau beli mie ayam,"
"Dasar kebo! Lagian kamu, tidur dari tadi nggak bangun-bangun," kata Ibu.
"Jadi, ceritanya Lina diboongin, nih?"
Ais dan Ibu hanya tertawa.
Ane langsung masuk ke dalam rumah sambil monyongin bibir dan melanjutkan tidur siang ane yang terganggu.
30 menit kemudian, ane belom juga bangun tidur.
1 jam kemudian, ane belom juga bangun tidur.
2 jam kemudian, ane belom juga bangun tidur.
Ane masih asyik dengan mimpi ane ketemu sama Gerard Way. Namun, tiba-tiba ada hal yg mengusik ane.
"Mbak Lina, mau beli bakso nggak?" tanya Ais tiba-tiba sambil teriak.
"Mmmm..."
"Mbak lina mau beli bakso nggak? Ais mau beli nih?" tanya Ais yang lagi buka pintu kamar ane sambil teriak.
"Mau..." kata ane sambil ngucek-ngucek mata.
"Mah, Mba Lina mau baksonya,"
"Ambil sendiri Lin, mangkoknya," kata Ibu ane.
Ane keluar kamar langsung ke dapur buat ngambil mangkok. Alhasil ane keluar rumah dengan wajah yang masih abstrak.
-skip-
Keesokkan harinya...
Seperti biasa, ane lagi tidur siang...
"Mbak Lina, mau beli siomay nggak?" tanya Ais sambil teriak.
"Mmmm..."
Ane agak lama berpikir buat paham pertanyaan ade ane, Ais.
1 detik...
Masih bingung
2 detik...
Mulai berpikir
"Hah? Beli?"
3 detik...
"Beli apaan?? Siomay??"
4 detik
Deg! Pikiran ane langsung bersimpulan kalau Ais mau beli siomay.
"Mau!!" jawab ane dengan suara keras sambil lari ke teras depan rumah.
"Mah, Lina mau dong,"
"Ambil piringnya gih,"
Ane kabur ke dapur buat ngambil piring. Banyak rintangan yang harus ane hadapi cuma untuk ngambil piring. Mulai dari nunggu cicak yang mau nyeberang di depan ane, ampe kepala ane yang kejedot daun pintu. Namun, semua perjuangan itu seakan hilang semua, saat ane menyantam siomay. Mmmm....Yummy....
-skip-
Keesokan harinya...
Ane tetap ngelakuin hobi ane yang satu itu.
30 menit kemudian...
1 jam kemudian....
2 jam kemudian...
Kali ini ane masih mimpi punya suara kayak Amy Lee, nyanyi di panggung sambil denger teriakan para penggemar "Mei, I love you!". Namun, tiba-tiba ada hal yang mengusik ane.
"Mbak Lina, mau beli mie ayam nggak?" tanya Ais yang lagi dan lagi sambil teriak.
"Hmmmm..."
Tidak ada yg berbeda, seperti biasa. Ane agak lama berpikir buat paham pertanyaan ade ane.
1 detik...
Masih bingung
2 detik...
Mulai berpikir
"Hah? Beli?"
3 detik...
"Beli apaan?? Mie ayam??"
4 detik
Deg! Pikiran ane langsung bersimpulan kalau Ais mau beli mie ayam.
"Mau!!" jawab ane dengan suara keras sambil lari kr teras depan rumah.
Saat di teras depan rumah, ane tengok ke kanan dan ke kiri persis kayak orang mau nyeberang.
"Kok, nggak ada tukang mie ayamnya?" tanya ane, kebingungan.
"Tuh, kan, Mah. Mbak Lina bangun," kata Ais.
"Mana tukang mie ayamnya??" tanya ane.
"Enggak ada," jawab Ais dengan polos.
"Lah, tadi katanya mau beli mie ayam,"
"Dasar kebo! Lagian kamu, tidur dari tadi nggak bangun-bangun," kata Ibu.
"Jadi, ceritanya Lina diboongin, nih?"
Ais dan Ibu hanya tertawa.
Ane langsung masuk ke dalam rumah sambil monyongin bibir dan melanjutkan tidur siang ane yang terganggu.
Komentar