Langsung ke konten utama

Terserang Cacar

Cacar. Pada umumnya, penyakit ini menjangkit anak-anak. Namun, hal ini berbeda bagi ane. Ane terjangkit cacar saat kelas 2 SMK (udah bangkotan, baru kena cacar). Mungkin ini adalah karma soalnya ane biasa ngomong gini ke Kety.

"Mei dong, nggak pernah kena cacar. Daya tahan tubuh mei kan kuat,"

Alhasil, ane harus diem di rumah selama seminggu, nggak ada hal lain yg bisa ane lakuin selain ngejalanin hobi ane, makan dan tidur.

"Mbak lina cacat ya??"
tanya Ais saat pulang sekolah sambil teriak.

"Waduh, cacat?? Hei! Enak aja! Mah, Ais nih bilang Lina cacat,"

"Ais, jangan deket-deket mbak lina, nanti kamu ketularan," kata Ibu ane.

Ais pun pergi meninggalkan ane yg mau ngelanjutin tidur.

5 menit

15 menit
 
30 menit

1 jam

Ane nggak bisa tidur lagi. Berbagai posisi tidur udah ane lakuin, mulai dari telentang, tengkurep, nungging, tidur di atas kasur, ampe tidur di kolong kasur, tapi tetep aja ane nggak bisa tidur.

Tring! Ane kepikiran kejadian 2 hari yg lalu, yg bikin ane harus dirumah.

"Yang belum kebagian ujian atau yang harus ujian ulang, besok. Kalo sekarang udah sore nih. Bapak mau pulang," kata guru ane. 

"Iya, Pak," jawab anak-anak serempak.

"Jangan lupa belajar. Kalo nggak belajar, sama aja bohong, bakal ujian ulang juga,"

"Iya, Pak,"

Akhirnya, waktunya pulang juga.

"Aduh, gimana nih?" kata salah satu temen ane.

"Iya nih, kalo nggak belajar malem ini, sama aja boong, besok nggak lulus ujian," kata temen ane yang lain.

"Kita belajar aja di rumah Mei, kan ada komputer tuh," Ketty mencoba memberikan solusi.

"Wew, kenapa jadi Mei?"

"Ayolah, Mei kan dari sekian banyak cewe di kelas cuma Mei yang lulus," rayu Ketty sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Enggak bisa bilang nggak deh kalo begini,"

"Woi, nanti kalo mau belajar buat ujian praktek besok, belajar di rumah Mei aja," kata Ketty sambil teriak.

Ane enggak bisa berbuat apa-apa.

Malam harinya, rumah ane jadi kayak asrama putri. Ya. Temen-temen ane yang dateng itu cewe semua sekitar 10 orang. Jadilah ane seorang guru dadakan. Mengajari mereka satu per satu buat ujian praktek besok pagi.

Waktu terus berjalan dan jarum jam tidak berhenti berputar (karena baru ganti batu baterai). Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 tengah malam dan acara belajar bersama baru selesai padahal besoknya sekolah masuk pagi.

Besok paginya, ane cuma diem bengong di teras depan ruang ujian praktek bersama temen-temen yg laen yg lagi nungguin giliran ujian ulang. Terkadang, ada murid-murid yg laen pada lalu-lalang kayak di jalan raya.

"Ayang aus," Ane manggil kety dengan nama pangilan ayang aus.

"Kenapa ayang laper?"

"Mei ngantuk, nih"

"Lah, tidur gih sana,"

"Masa, Mei tidur di teras kelas gini,"

Lah, ini anak maennya ayang-ayangan. Si Kety, ayang aus. Si Mei, ayang laper. Septi sama Linda, ayang apa?" tanya Dini, temen sekelas ane.

"Si Septi ayang ngantuk, kalo Linda ayang genit," Ketty memberikan penjelasan.

"Lah, gue apaan dong? Ayang galon gitu?" tanya Dini yang memiliki bentuk tubuh agak gemuk.

"Hahahaha. Itu kan Dini yang ngomong," kata ane disertai dengan tawa.

Lewatlah, seorang murid, seangkatan sama ane, dia lagi cacar.


-skip-

"Mah, ini apaan di perut Lina? Kok kayak bentol gitu," tanya ane sambil nunjukin perut.

"Lah, ini mah cacar. Udah kamu nggak usah masuk sekolah dulu,"

"Iya deh,"

"Jangan di garuk! Nanti kita ke dokter,"

"Tau aja kalo mau digaruk," kata ane dalam hati.

Akhirnya selama seminggu, ane harus dirumah bersama teman yg bernama kebosanan. Malah nggak ada yg jenguk lagi. Ane gerah juga sama kebosanan dan memutuskan sekolah.

Tiba-tiba di lantai dua ketemu Linda dan Ketty.

"Lah, emak! ngapain sekolah??" tanya Linda yang kaget karena ngeliat ane sekolah.

"Bosen ah! Di rumah terus! Mana kagak ada yg jenguk lagi!" jawab ane kesel.

"Ih, emak. Kita ini baru pada mau jenguk. Nanti rencananya kita baru pada mau minta duit patungan buat beli buah. Nanti buahnya nda yang makan deh," Linda memberikan penjelasan.

"Au ah!"

"Yeh, marah," goda Ketty.

"Lagian, masa nggak ada yg jengukin, jahat banget,"

"Ya udah, mak, pulang aja gih, nanti kita janji deh bakalan jenguk hari ini juga," kata Linda memberikan solusi.

"Au ah! mendingan Mei loncat nih,"

Ane liat Linda dan Kety diem aja. Saling liat-liatan dan berteriak sambil bertepuk tangan.

Loncat! Loncat! Loncat!" kata Linda dan Kety sambil bertepuk tangan, memberikan semangat.

Ane langsung kabur masuk ke kelas.

"Loh, kok nggak jadi loncat sih?" tanya Linda.

"Eggak mau, Mei nggak mau mati konyol,"

Linda dan Ketty tertawa lepas. Ane masih tetep pasang muka ditekuk a.k.a ngambek.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.