Langsung ke konten utama

Saat Laptop Tertinggal

Sifat lupa ane sepertinya sudah tingkat dewa. Mulai dari ponsel yang sering ketinggalan di kamar (ane lumayan sering ke kampus nggak bawa ponsel), dompet yang ilang (karena kecopetan), jemuran basah karena kehujanan (lupa diangkat), sampe lupa pakai helm padahal ane mau ke kampus. Banyak orang di sekitar ane udah merasa biasa dan dapat memaklumi sifat ane yang satu ini. Utunglah, mereka baik hati dan tidak sombong serta dapat mengerti ane.

Nah, kali ini ada barang yang ketinggalan. Ane yakin, pasti baru ane yang lupa bawa benda ini. Laptop. Laptop ane ketinggalan. Masih mending kalau ketinggalan di rumah, tapi ini ketinggalan di kelas.

Wusss.....tiupan angin lumayan besar menerbangkan jilbab yang ane pake. Ane menengadah, melihat langit, langit yang tertutup awan hitam.

"Kayaknya mau turun ujan nih, cepet-cepet pulang ah," ujar ane dalam hati.

Dengan secepat yang ane bisa, ane lari cepet ke kelas (kayak anak tk), buat ngambil tas ane. Ternyata laptop dan charger laptop ane masih di atas meja. Kebetulan tempat duduk ane, lagi didudukin Toni.

"Ton, misi, Mei mau nyopot charger,"

Tanpa mengucapkan kata-kata, Toni cuma geser sedikit, tapi tetep duduk di bangku ane sambil naroh kertas di atas meja ane. Lebih tepatnya taruh kertas di atas laptop ane.

"Mau ke mana lu, Mei?" tanya Toni.

"Pulanglah, udah mendung noh,"

Ane pun langsung ngibrit ke parkiran, pulang...

Apes. Ane keujanan di jalan dan mengharuskan melawan air yg jatuh menimpa tubuh ane. Sepatu ane pun kebanjiran. Jarak pandang memendek, hanya sekitar 5 meter. Ane tengok kanan-kiri, jalanan sepi dari pengendara motor.

"Ah, biarin aja, lawan badai, biar cepet nyampe rumah, laper nih,"

-skip-
Sesampainya ane di rumah.

"Loh, kok kering, perasaan tadi ujan deres deh," ujar ane saat baru sampe rumah.

"Lah, kok kamu pake jas ujan, na?" tanya ayah.

"Di jalan badai, be, bukan ujan lagi,"

Dengan kecepatan cahaya, ane buka semua atribut yg ane pake (helm, masker, jas ujan, jaket, tas, sepatu, dan kaos kaki). Langsung menuju dapur buat ketemu sama pacar kedua ane, nasi.



-skip-
Selesai makan dan ngaso...

"Ah, periksa ponsel ah, siapa tau ada yg sms, walaupun kemungkinan ada yg sms cuma 0,00001%, siapa tau ada keajaiban,"

Ane liat layar ponsel, ada sms dari temen sekelas ane, Komar. Ane baca smsnya. Ane liat lagi ada dua sms yang lebih dulu masuk, dari temen sekelas ane juga, Toni dan Tiara. dari ketiga sms itu, hampir isinya sama, yaitu

"Mei, laptopnya ketinggalan nih,"

Buk! Rasanya ada paus biru yang jatuh dari langit terus niban ane. Beraaaatttt banget. Saat itu juga, ane ngerasa orang yang paling bodoh sedunia. Ane langsung ngecek tas ane. Aha! laptop ane nggak ada di dalem tas a.k.a bener-bener ketinggalan. Tapi kok, charger sama baterainya ada di dalem tas, ya?? Ane langsung berpikir, "Adakah orang yg ketinggalan laptopnya tapi bawa charger dan baterainya? Nggak ada. Cuma ane."

"Astaga, laptop Lina ketinggalan di kelas,"

"Kamu itu lin, ceroboh banget sih!" Ibu ane udah mulai ngomel.

"Apaan? laptop ketinggalan di kelas?? terus gimana jadinya??" tanya Ayah ane tercinta.

"Bentar, be, ini Lina mau hubungin temen Lina,"

Ane hubungin temen sekelas ane.Pertama, ane hubungin Tiara.

Tut...Tut...Tut...(ini suara telepon nggak diangkat ya bukan suara kereta api)
Telepon ane nggak diangkat sama ara. Kedua ane hubungin toni.

"Halo, Ton?" ujar ane mengawali pembicaraan.

"Iya, Mei. Tuh laptopnya ketinggalan," kata Toni sambil ketawa.

"Iya, Ton, terus laptop Mei di mana?"

"Ada pokoknya,"

"Ya udah, laptop Mei, Toni bawa pulang dulu aja ya,"

"Terus? laptop-nya, gue jual ya?"

"Jangan!! Enak aja!"

"Lagian lu, charger dibawa tapi laptop ditinggal,"

"Lah, namanya orang lupa, Ton,"

"Iya, iya, kalo lupa, nggak inget,"

"Udah napa ,Ton, kayak Toni nggak pernah lupa aja!"

"Iya, iya..."

"Terus laptop Mei ada di mana?"

"Ada di atas (di kelas), gue lagi di bawah (kantin), lagi makan,"

"Ya udah, Ton, jangan lupa, laptop Mei bawa pulang,"

"Iya, iya..."

Ckrek! Telepon ane tutup.

"Bentar, bentar, Toni kan sering dateng siang kalo ngampus, berarti Mei bisa ketemu pacar (laptop) siang dong. Enggak mau ah kalo gitu. Ya udah, Mei minta tolong Komar aja. Sebelumnya sms Toni dulu bilang kalo enggak jadi minta tolong dia," kata ane dalam hati.

Akhirnya, laptop ane dibawa pulang sama Komar. Huft...Lega banget hati ane, urusan laptop selesai.

Keesokan paginya. Seperti biasa, ane orang pertama yg dateng di kelas bersama Farah. (kebetulan ketemu di jalan, jadinya Farah nebeng)

Beberapa menit kemudian, Tiara dateng, langsung pasang ekspresi wajah bahagia.

"Hahahaha, Mei sih pulang duluan, laptopnya kan jadi ketinggalan," kata Tiara mulai ngeledek ane.

"Iya nih, Ra, sepi rasanya kalo nggak ada laptop Mei,"

"Hahahaha, sukurin kemaren kan abis Mei pulang, laptopnya ketinggalan, kita sekelas, makan-makan dong,"

"Oh, Ara bersenang-senang di atas penderitaan Mei ya?"

"Iya dong, Mei, liat aja, nanti pasti Komar nggak bawa laptop Mei,"

"Enggak, pasti bawa kok,"

"Kalaupun nanti dibawa, pasti laptop Mei nanti hamil,"

"Enggak bakal hamil, laptop Mei kan cowo,"


-skip-
Komar dateng.

"Asyik! Komar dateng, bawa laptop Mei kan?"

"Enggak bawa mar, nggak bawa," kata Tiara ngomporin Komar.

Komar cuma geleng-geleng kepala.

"Ara, udah cukup penderitaan Mei, melewati semalam tanpa laptop."

"Hahahaha, Ara seneng kok ngeliat Mei menderita,"

Akhirnya, Komar ngembaliin laptop ane. Terima kasih Tuhan, karena ane masih bisa dipersatukan kembali dengan laptop ane. Ane janji nggak bakal ninggalin nih laptop lagi.


-skip-
Temen sekelas ane yg laen, Angga, dateng.

"Mba, mba, udah kebanyakan duit ya? sampe laptop ditinggal," ledek Angga.

"Malah ngeledekin,"

"Lagian lu sih, seumur-umur, gue belum pernah ketemu orang yang ketinggalan laptop di kelas. Laptop itu gede dan berat, Mei, kalo ketinggalan kan kerasa,"

"Ih, kemaren itu, tas Mei nggak kerasa berat," kata ane. "dah napa, udah, jangan dibahas lagi," lanjut ane.

"Gue enggak akan berhenti ngebahas, sampe lu ketinggalan motor di kampus, dan lu pulang naek angkot sambil bawa helm,"

Seharian itu, ane abis, abis diledekin sama temen sekelas. Rasanya tuh, mau lari ke pantai, terus teriak sekenceng-kencengnya (kayak bait puisi).

-skip-
Saat ane mau pulang,

"Diliat tasnya, laptopnya ketinggalan lagi enggak," Toni mengingatkan atau meledek ane.

"Udah, nih, udah. Udah Mei masukin," kata ane sambil
buka tas, nunjukin laptop.

"Kayaknya Toni bahagia banget, nyampe ketawa cekakakan, gitu," pikir ane.

Ane pun jalan menuju parkiran bersama Tiara, Risti, Nanda, dan Memed.

"Ada yg ketinggalan, enggak, Mei??" tanya Tiara.

"Ada kok, jejak kaki Mei ketinggalan di kelas,"

"Bukan jejak kaki, Mei , yang masih ketinggalan di kelas,"

"Apaan, Ra?"

"Harga diri Mei noh, ketinggalan di kelas," kata Tiara. "Jangan-jangan Mei pernah naek motor tapi lupa enggak pake jilbab," lanjut Tiara

"Astaga, jadi, Ara doa-in mei begitu,"

"Iya, Ara kan mau ngeliat Mei menderita lagi,"

"Lagian, bisa-bisanya ketinggalan," Nanda ikut bicara.

"Yah, namanya juga orang lupa, Nan," kata ane memelas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.