Dikelas lagi ada keributan. Bukan keributan yang main fisik melainkan keributan yang main mental.
Ada tugas kuliah untuk menjadi reseller. Tugas ini dikerjakan berkelompok. Nah, si Memed (biasa jadi cengan) emang bermental baja. Di kelas, tidak ada satu hari pun terlewati tanpa ngecengin Memed. Termasuk hari ini.
"Aduh, mimpi apa gua semalem?? Nyampe harus satu kelompok sama Memed," keluh Evan.
"Mimpi basah kali lu, Van," kata Tiara.
"Iya, mimpi basah gara-gara kecebur sumur akibat si Memed ngejar-ngejar gua," Evan menjelaskan.
"Yeh, ngomong aja lu, Van!" Memed ikut bicara.
"Kita jual apa nih med, ra??" tanya Evan ke Memed dan Tiara, soalnya mereka bertiga sekelompok.
"Gimana kalo jual diri aja??" kata Tiara mengajukan usul.
"Jual diri?? Memed mah enggak bakal laku jual diri juga. Enggak ada yg mau beli," kata Evan.
"Kurang ajar lu, Van!" kata Memed sambil nendang Evan.
"Kalo Memed dituker tambah, enggak ada yang mau. Tuker sama abu gosok, abangnya juga males kalo dituker sama Memed," lanjut Evan.
"Parah lu, Van," kata Tiara sambil ketawa.
"Sabar ya, Med," kata ane ke Memed.
"Tenang aja mei, gua udah biasa kok," kata Memed dengan tenang.
"Gimana kalo kita jual pilek??" usul Evan.
"Ada-ada aja lu, Van," kata Tiara.
"Noh, Memed yang disuruh jual," kata Evan lagi.
"Hahahaha, pileknya yangg bisa gelembung. Kayak balon gitu," kali ini Risti ikut bicara.
"Iya, terus diambil pake tangan," kata Evan.
"Udah, udah... Jorok banget, sih...Kalian jualan yang bener sedikit kenapa??" kata ane sambil berharap pembicaraan tentang pilek ini berkahir.
Namun, kenyataannya, mereka enggak dengerin perrkataan ane. Mereka masih aja membahas untuk menjual pilek.
"Aduh, mimpi apa gua semalem?? Nyampe harus satu kelompok sama Memed," keluh Evan.
"Mimpi basah kali lu, Van," kata Tiara.
"Iya, mimpi basah gara-gara kecebur sumur akibat si Memed ngejar-ngejar gua," Evan menjelaskan.
"Yeh, ngomong aja lu, Van!" Memed ikut bicara.
"Kita jual apa nih med, ra??" tanya Evan ke Memed dan Tiara, soalnya mereka bertiga sekelompok.
"Gimana kalo jual diri aja??" kata Tiara mengajukan usul.
"Jual diri?? Memed mah enggak bakal laku jual diri juga. Enggak ada yg mau beli," kata Evan.
"Kurang ajar lu, Van!" kata Memed sambil nendang Evan.
"Kalo Memed dituker tambah, enggak ada yang mau. Tuker sama abu gosok, abangnya juga males kalo dituker sama Memed," lanjut Evan.
"Parah lu, Van," kata Tiara sambil ketawa.
"Sabar ya, Med," kata ane ke Memed.
"Tenang aja mei, gua udah biasa kok," kata Memed dengan tenang.
"Gimana kalo kita jual pilek??" usul Evan.
"Ada-ada aja lu, Van," kata Tiara.
"Noh, Memed yang disuruh jual," kata Evan lagi.
"Hahahaha, pileknya yangg bisa gelembung. Kayak balon gitu," kali ini Risti ikut bicara.
"Iya, terus diambil pake tangan," kata Evan.
"Udah, udah... Jorok banget, sih...Kalian jualan yang bener sedikit kenapa??" kata ane sambil berharap pembicaraan tentang pilek ini berkahir.
Namun, kenyataannya, mereka enggak dengerin perrkataan ane. Mereka masih aja membahas untuk menjual pilek.
Komentar