sore yang cerah. matahari sedang bersiap-siap "tidur" digantikan dengan bulan. ane, ibu, dan Ais duduk di teras depan sambil menikmati sore yang indah tersebut.
"Lin, kamu ini galak banget sih. Jadi nggak ada yang mau sama kamu," kata Ibu secara tiba-tiba
(Lanjut? Klik aja judulnya)
Jleb! pernyataan pembuka yang cukup "nusuk" ane.
"Biarin aja apa mah," kata ane dengan wajah datar.
"Ya gimana mau laku, kalo gini caranya?"
"Tau nih, Mbak lina. Masak kalah sama kakaknya Nisa," Ais ikut berkomentar.
"Biarin. Enggak usah ngurusin orang lain," kata ane dengan intonasi sedikit meninggi.
"Ya udah, dek, kamu bantuin cariin gih!" kata Ibu ke Ais.
"ENggak mau ah! Mana ada yang mau sama orang yang galak kayak Mbak Lina," kata Ais.
Ane cuma bisa diem.
"Ya udah, Lin, kamu sama udin aja," kata ibu ngusulin Udin, tetangga ane yang punya keterbelakangan mental.
Jleb! Jleb!
Kalimat ibu ane yang satu ini bener-bener bikin hati ane perih bagaikan hati yang sudah teriris kemudian ditaburi garam.
Walaupun ane nyesek, ane berusaha terlihat datar, seperti tidak terpengaruh apa-apa. Otak ane terus berusaha membalikkan kata-kata ibu ane itu.
"Emangnya mama mau punya menantu kayak gitu?" ucap ane.
Mudah-mudahan kalimat yang ane ucapkan bisa membuat ibu nggak nyindir ane lagi. Ternyata....
"Mau aja. Dari pada nggak punya menantu,"
Mendengar balasan ibu. Pertanyaan dan doa pun muncul dalam hati.
Ya Tuhan, Lina boleh minta ganti keluarga nggak??
Ane tersenyum kecut sedangkan ibu dan Ais tertawa melecehkan ane.
"Lin, kamu ini galak banget sih. Jadi nggak ada yang mau sama kamu," kata Ibu secara tiba-tiba
(Lanjut? Klik aja judulnya)
Jleb! pernyataan pembuka yang cukup "nusuk" ane.
"Biarin aja apa mah," kata ane dengan wajah datar.
"Ya gimana mau laku, kalo gini caranya?"
"Tau nih, Mbak lina. Masak kalah sama kakaknya Nisa," Ais ikut berkomentar.
"Biarin. Enggak usah ngurusin orang lain," kata ane dengan intonasi sedikit meninggi.
"Ya udah, dek, kamu bantuin cariin gih!" kata Ibu ke Ais.
"ENggak mau ah! Mana ada yang mau sama orang yang galak kayak Mbak Lina," kata Ais.
Ane cuma bisa diem.
"Ya udah, Lin, kamu sama udin aja," kata ibu ngusulin Udin, tetangga ane yang punya keterbelakangan mental.
Jleb! Jleb!
Kalimat ibu ane yang satu ini bener-bener bikin hati ane perih bagaikan hati yang sudah teriris kemudian ditaburi garam.
Walaupun ane nyesek, ane berusaha terlihat datar, seperti tidak terpengaruh apa-apa. Otak ane terus berusaha membalikkan kata-kata ibu ane itu.
"Emangnya mama mau punya menantu kayak gitu?" ucap ane.
Mudah-mudahan kalimat yang ane ucapkan bisa membuat ibu nggak nyindir ane lagi. Ternyata....
"Mau aja. Dari pada nggak punya menantu,"
Mendengar balasan ibu. Pertanyaan dan doa pun muncul dalam hati.
Ya Tuhan, Lina boleh minta ganti keluarga nggak??
Ane tersenyum kecut sedangkan ibu dan Ais tertawa melecehkan ane.
Komentar