Langsung ke konten utama

Lomba Make Up

Untuk memperingati hari kartini tahun ini, kampus ane ngadain lomba make up. Terpilihlah Risti sebagai modelnya dan Nanda sebagai make up artist. Niatnya sih, Memed yang mau dijadiin modelnya tapi daripada malu-maluin kelas ane, mendingan Risti lah...Dia kan cantik, bohay, putih, dan yang lebih penting, dia nggak bakal malu-maluin kelas ane deh.

(Lanjut? Klik aja judulnya)

Astaga, dasar cewe ya...persiapannya banyak banget....Mulai dari alat make up lengkap (yg bawa Risti sama Nanda), baju kebaya 2 potong (Risti minta pendapat bagusan pake kebaya yang putih atau hijau), hair dryer (Tiara yang bawa), sampe hair spray. Bener-bener banyak deh bawaannya, nggak jauh beda sama pedagang asongan.

Sebelum perlombaan, Risti nyoba kebaya yang bakal dipakai. Terpilihlah kebaya putih yang akan digunakan. Sambil ngobrol-ngobrol, Tiara, Memed, Nanda, dan Risti dandan.

"Med, sebenernya yangg mau ikut lomba itu lu apa Risiti sih?" tanya Nanda

Memed nggak dengerin omongan nanda, masih asyik sama make up-nya.

"Med, lu mau nyaingin kecantikan gue??" tanya Risti sekaligus nyidir.

"Iya, ti. Gua mau nyaingin kecantikan lu,"

"Med, lu tuh dandan kayak cewe kenapa, bukan kayak banci." kata Tiara secara tiba-tiba.

"Hahahaha, lu ra...parah..." Risti ketawa cekakan.

"Lagian tuh, ti, yang mau ikut lomba siapa, yang dandan siapa," Tiara membela diri.

"Udah ah med, sini alat make up gua. Nanti pada rusak lagi. Tuh kan rusak. Kok lipstik gua jadi begini,"  kata Nanda sambil merhatiin lipstiknya yang patah.


"Bentar apa, nan, kan gua juga mau tampil cantik," rengek Memed.

"Lu tuh, med, di dandanin kayak apapun tetep cantikan gua," kata Tiara.

-skip-

Perlombaan selesai, ternyata kelas ane nggak menang. Kategorinya aneh, ada yg tergurih, terunik, dll. Ya jelas lah, kelas ane nggak menang. Lah, si Risti dandannya kayak pengantin wanita yg siap akad nikah tapi tetep kok, Risti terlihat cantik dan anggun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman & Pengamatan Pribadi di Acara Prambanan Jazz Festival 2017

Sebenarnya, sama sekali enggak kepikiran untuk hadir di acara Prambanan Jazz Festival 2017. Yang dipikirin saat itu cuma, “mau pulang kampung”. Nah, di sini nih peran spontanitas Mei. Beberapa minggu sebelumnya, Mei asal ngomong ke Hesti Sensei, “Sensei, kayaknya kita harus nonton konser bareng, deh”. Hesti sensei pun setuju. Mei pun enggak terlalu menganggap itu serius. Biarkan aja berjalan. Ndilalah, Mei liat e-flayer acara Prambanan Jazz Festival dengan Special Show dari Shane! Mei coba tanya Hesti Sensei. Ternyata, dia amat-sangat-setuju-banget (pemborosan kata, nih) karena dia penggemar Westlife! (Ket: Shane mantan anggota boyband tahun 90-an, Westlife). Berawal dari pengalaman dan pengamatan Mei itulah, Mei memberanikan diri buat nulis ini. Ingat ya, karena ini hanya berdasarkan Mei, jadi tulisan ini bersifat subjektif. 1. Tiket Tiket bisa dibeli online di situs resmi Prambanan Jazz Festival, https://tiketapasaja.co/. Sedangkan kalau kalian mau cari informasi lebih...

Jadi Rela-wati (Bagian 1)

Jadi rela-wati Pernah enggak sih, kalian merasa stuck sama hidup kalian? Gitu-gitu aja. Monoton. Segalanya berjalan lancar. Sampai enggak tau maunya apa, bingung harus bagaimana dan  ke mana? Mei pernah. Apa yang Mei lakuin? Diam. Istirahat. Sambil lihat ke belakang. Sambil menunggu sesuatu. Entah ide, entah angin, entah semut, apa pun itu. Cukup lama Mei seperti itu. Dan akhirnya, Mei mau melakukan sesuatu yang belum pernah Mei lakuin. Menjadi rela-wati. Kenapa bukan relawan? Karena biar sesuai nama Mei yang ada "wati"nya. Hihihihi. Kegiatan relawan yang pertama kali Mei ikuti adalah kegiatan donor rambut yang dilakuin Yayasan Pita Kuning. Waktu itu lagi iseng aja scroll home Facebook, lihat video anak-anak donor rambut untuk para penderita kanker anak, yang terjadi di Amerika. Trus berpikiran, "di Indonesia ada enggak ya?" . Cari tahu. Dapat. Ah, jadi inget kata-katanya Eyang Paulo, "when you want something, all the universe conspi...

Lulusan Apa?

Seperti biasa, saat enggak ada dosen, kita sekelas pasti bercanda. Enggak tau kenapa, tau-tau kita ngomongin tentang lulusan orang tua. Evan : Ibu gue mah cuma lulusan SMP. Rizky : Lah...lu mah masih mending, van. Noh ibunya Golink (Golink : pentolan di kelas. maklumlah dia pernah tawuran) lulusan pesantren. Evan : Pesantren? lu tau dari mana ky? Rizky : Iye. Lu nggak tau?? Ibunya Golink lulusan pesantren. Pesantren kilat. Tiga hari aja udah selesai dapet sertifikat. Aduh, secara spontan, anak-anak lain yang mendengar percakapan itu langsung tertawa terbahak-bahak.